Bagikan:

JAKARTA - Indonesia kembali mempertegas komitmennya dalam menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara melalui pengiriman dua personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai Military Observer dalam ASEAN Observer Team (AOT) di Kamboja.

Kedua personel tersebut, Letnan Kolonel Czi Devi Ibrohim dan Mayor Laut (KH) Rangga Hadi Saputra, telah tiba di Phnom Penh pada 25 April 2026 untuk melanjutkan misi pemantauan implementasi gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand.

Kehadiran kedua personel TNI tersebut menandai kesinambungan kontribusi Indonesia dalam mekanisme pemantauan kawasan, menggantikan Kolonel Hermawan Weharima dan Letnan Kolonel Sukmana Bayuaji yang telah menyelesaikan penugasan dengan baik, kata KBRI Phnom Penh dalam keterangannya seperti dikutip, Jumat (1/5).

Setibanya di Phnom Penh, keduanya diterima oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Phnom Penh, Krishnajie, pada 26 April 2026.

kbri phnom penh
Kedatangan dua personel TNI yang akan bertugas sebagai militaru observer dalam ASEAN Observer Team (AOT) di Kamboja. (Sumber: KBRI Phnom Penh)

Penugasan ini menjadi bagian dari peran aktif Indonesia dalam mendukung upaya ASEAN menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Dalam konteks dinamika hubungan Kamboja–Thailand selama setahun terakhir, kehadiran pihak ketiga yang netral dan kredibel dinilai krusial untuk memastikan implementasi kesepakatan gencatan senjata berjalan efektif serta mencegah potensi eskalasi konflik.

Sejak bergabung pada 10 September 2025, tim AOT Indonesia berperan dalam memantau situasi keamanan, melakukan verifikasi lapangan, serta menyampaikan laporan objektif kepada para pihak terkait. Peran tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis dalam membangun kepercayaan dan menjaga transparansi antarnegara.

AOT merupakan kelanjutan dari ASEAN Interim Observer Team (IOT) yang pembentukannya disepakati dalam Special Meeting di Putrajaya, Malaysia, pada 28 Juli 2025. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan akan mekanisme pemantauan yang netral dan kredibel pascakonflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand terkait sengketa wilayah perbatasan.

Terms of Reference (TOR) AOT kemudian disepakati dalam pertemuan General Border Committee (GBC) Kamboja–Thailand pada 26 Oktober 2025 sebagai dasar operasional pelaksanaan tugas di lapangan.

Bagi Indonesia, keterlibatan dalam AOT mencerminkan komitmen berkelanjutan untuk mendorong penyelesaian konflik secara damai serta memperkuat arsitektur keamanan kawasan. Kontribusi personel TNI di lapangan menjadi wujud nyata diplomasi pertahanan Indonesia yang aktif dan konstruktif.