JAKARTA - Rusia tidak akan mengerahkan peralatan militer dalam parade tahun ini untuk memperingati 81 tahun kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, atau Victory Day kata Kementerian Pertahanan negara itu.
Acara tersebut, yang biasanya ditandai dengan pertunjukan kekuatan militer yang bombastis setiap tahunnya, dijadwalkan pada 9 Mei di Lapangan Merah Moskow.
Beberapa sekolah militer, korps kadet, "serta kolom peralatan militer, tidak akan berpartisipasi dalam parade militer tahun ini karena situasi operasional saat ini," kata kementerian tersebut di Telegram, dikutip dari Al Arabiya (30/4).
Parade tersebut diharapkan akan mencakup perwakilan dari semua cabang angkatan bersenjata, serta video yang menunjukkan prajurit "melaksanakan tugas di zona operasi militer khusus," sebuah referensi untuk perang di Ukraina, kata kementerian.
Sementara itu, pertunjukan udara tetap direncanakan dalam peringatan tahun ini.
"Selama segmen penerbangan parade, pesawat-pesawat dari tim akrobatik udara Rusia akan terbang di atas Lapangan Merah, dan pada akhir parade, pilot pesawat serang darat Su-25 akan mewarnai langit Moskow dengan warna bendera Federasi Rusia," jelas Kementerian Pertahanan.
Terpisah, Kremlin mengatakan pada Hari Rabu, parade militer di Lapangan Merah telah dikurangi skalanya tahun ini dan tidak akan menyertakan peralatan militer karena risiko yang digambarkan sebagai "aktivitas teroris Ukraina."
Tahun lalu, lebih dari dua lusin pemimpin dunia, termasuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, berada di Moskow untuk menyaksikan prosesi ribuan pasukan - beberapa di antaranya bertempur di Ukraina - dan berbagai senjata, termasuk tank dan drone baru, yang dikerahkan untuk menandai kekalahan Nazi pada tahun 1945.
Perang Dunia II, yang dikenal di Rusia sebagai Perang Patriotik Besar, adalah narasi sejarah utama dari pemerintahan Vladimir Putin selama seperempat abad.
Presiden Putin berulang kali menggunakan kemenangan atas Nazi Jerman untuk membenarkan serangan terhadap Ukraina, menyebut "rezim Kyiv" sebagai "neo-Nazi" yang perlu disingkirkan dari kekuasaan.
BACA JUGA:
Di sisi lain, Kyiv dan Barat menolak narasi itu sebagai propaganda dan menyebut kampanye Rusia sebagai perebutan tanah ilegal yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil dan membuat Moskow merebut sebagian besar wilayah selatan dan timur Ukraina.
Perang di Ukraina, yang dilancarkan oleh Moskow pada Februari 2022, telah memobilisasi sumber daya ekonomi yang signifikan dan telah merenggut nyawa ratusan ribu orang.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua terhenti.