JAKARTA - Amerika Serikat mengumumkan penundaan penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS (sekitar Rp248 triliun) kepada Taiwan karena perang dengan Iran masih berlanjut.
Presiden AS Donald Trumpmengindikasikan penundaan penjualan senjata kepada Taiwanitu untuk alasan menjadikannya "alat negosiasi" dengan China.
"Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya (menjual senjata ke Taiwan). Saya mungkin juga tidak akan melakukannya,"kata Trump kepada Fox News dilansir ANTARA dari Anadolu, Jumat, 22 Mei.
Usai lawatan ke China, Trumpmengatakan telah membahasisu tersebut secara rinci dengan Presiden China Xi Jinping, sebelum memutuskan dalam waktu dekat soal penjualan itu.
Menurut laporan media, Amerika Serikat selama beberapa dekade mematuhi "Six Assurances", enam prinsip kebijakan luar negeri yang mengatur hubungan AS-Taiwan sejak 1982 pada masa presiden Ronald Reagan.
Poin kedua prinsip itu menyatakan AS tidak berkonsultasi dengan China terkait penjualan senjata ke Taiwan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao menjelaskan keputusan penundaan penjualan senjata ke Taiwanitu akan dilakukan oleh Menteri Pertahanan AS Pete hegsethdan Menteri Luar Negeri AS MarcoRubio.
Caomenegaskan militer Amerika masih memiliki cukup rudal dan sistem pencegat, meskipun muncul sorotan atas laporanpersediaan amunisi AS menipis.
"Saat ini, kami menunda penjualan untuk memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Furydan kami punya cukup. Kami hanya memastikan semuanya tersedia, tetapi penjualan untuk militer asing akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggapnya perlu," kata Cao dalam sidang Sub-komite Pertahanan Alokasi Senat di Washington D.C.
Epic Fury merujuk pada nama operasi militer yang dilakukan Amerikaterhadap Iran.
BACA JUGA:
Meskipun Cao menegaskan stok amunisi militer AS masih cukup, berbagai laporan menyebut militer Amerika telah menggunakan ribuan rudal sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Penggunaan tersebut disebut telah menghabiskan hampir separuh stok rudal jelajah siluman jarak jauh milik Pentagon, serta mengurangi cadangan rudal Tomahawk, rudal pencegat Patriot, rudal Precision Strike, dan rudal berbasis daratATACMS.
Gedung Putih disebut sedang merencanakan permintaan dana tambahan kepada Kongres sebesar 80-10 miliar dolar AS (sekitar Rp1,7 kuadriliun) untuk perang Iran.
Sebagian besar dana itu dipakaiuntuk mengisi kembali persediaan senjata mahal dan canggih yang telah habis selama pertempuran.
Satu-satunya faktor yang sedikit mengurangi tekanan adalah pemberlakuan gencatan senjata sejak April, sehingga penggunaan amunisi AS menurun signifikan.