JAKARTA - Pemerintah pusat tengah membangun hunian baru untuk merelokasi warga yang selama ini tinggal di bantarran rel kereta api, sekaligus menata ulang wajah kawasan padat di pusat Jakarta.
Program ini menjadi bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong percepatan penanganan permukiman tidak layak huni di perkotaan.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim menyebut, penataan kawasan bantaran rel bukan hanya soal relokasi, tetapi juga menyangkut keselamatan warga dan ketertiban tata kota yang selama ini bermasalah.
"Program ini merupakan terobosan penting dalam penataan kawasan kumuh, pengurangan risiko kecelakaan kereta api, serta penyediaan hunian layak bagi warga," kata Chico kepada wartawan, Minggu, 26 April.
Sebagai bentuk dukungan, Pemprov DKI telah menyiapkan opsi hunian tambahan bagi warga terdampak, terutama jika kapasitas hunian dari pemerintah pusat belum mencukupi.
"Kami melihat ini sebagai sinergi yang baik antara pusat dan daerah. Pemprov DKI telah menyiapkan 3 rusun (Nagrak, Rorotan, dan PIK Pulogadung) sebagai opsi relokasi sementara tambahan bagi warga terdampak," jelasnya.
Seiring dengan hal itu, Pemprov DKI juga menyiapkan infrastruktur penunjang seperti air bersih, transportasi, hingga layanan pendidikan dan kesehatan di sekitar lokasi baru di kawasan Kramat Raya, Senen, tersebut.
Pendekatan ini diambil untuk menghindari pola relokasi lama yang kerap memindahkan masalah ke tempat baru, bukan menyelesaikannya. Dengan lokasi yang tetap berada di pusat kota, diharapkan warga tidak kehilangan akses pekerjaan maupun jejaring sosialnya.
"Pemprov DKI berloordinasi dengan PAM Jaya mengenenai ketersediaan air bersih. Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan akan memastikan akses layanan existing di sekitar Senen. Dinas Perhubungan akan mengintegrasikan akses angkutan umum," tutur Chico.
Lebih lanjut, Chico menilai penataan bantaran rel mendesak untuk dilakukan. Selama ini, aktivitas warga yang tinggal sangat dekat dengan jalur kereta meningkatkan risiko kecelakaan fatal, terutama di titik-titik tanpa pembatas yang memadai.
Selain itu, keberadaan permukiman di atas atau di sekitar lahan milik negara kerap memicu persoalan hukum dan menghambat pengembangan transportasi. Penertiban kawasan ini diharapkan mengembalikan fungsi lahan sekaligus memperbaiki tata ruang kota yang lebih rapi dan terencana.
"Dampaknya sangat positif dan signifikan. Mengurangi risiko kecelakaan kereta dan bencana di bantaran rel, Mengembalikan lahan milik negara (PT KAI/Angkasa Pura) menjadi lebih tertib dan estetis, Hunian layak akan meningkatkan kesehatan, pendidikan anak, dan produktivitas," urainya.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyejut pembangunan hunian bagi warga yang selama ini tinggal di bantaran rel kereta, khususnya di kawasan Pasar Senen, sebagai bagian dari penataan permukiman padat sekaligus mengurangi risiko keselamatan di sekitar jalur kereta aktif.
"Sesuai dengan arahan Bapak Presiden Prabowo, pemerintah sedang membangun hunian yang layak dan nyaman bagi warga yang selama ini masih harus tinggal tepat di pinggir rel kereta api, khususnya di kawasan Pasar Senen, hanya 2 km dari pusat ibu kota," ujar Teddy.
Ia menekankan, posisi kawasan yang sangat dekat dengan pusat kota seharusnya tidak lagi diwarnai permukiman dengan kondisi minim fasilitas dasar. Karena itu, pembangunan hunian baru diarahkan tidak jauh dari lokasi semula agar warga tetap terhubung dengan aktivitas ekonominya.
Untuk memastikan proyek berjalan sesuai target, Teddy turun langsung meninjau lokasi pembangunan pada Sabtu, 25 April 2026. Ia didampingi Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin.
Peninjauan ini dilakukan untuk mengecek progres fisik sekaligus memastikan fasilitas yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan warga yang akan direlokasi.
Teddy juga mengungkapkan, perhatian pemerintah terhadap kawasan ini bukan hal baru. Sebelumnya, Presiden Prabowo sempat meninjau langsung kondisi permukiman warga di bantaran rel tersebut.
BACA JUGA:
“Bapak Presiden sendiri sempat mendadak mengunjungi lokasi pemukiman warga tersebut, tepat 1 bulan lalu, pada 26 Maret 2026,” ungkapnya.
Hunian yang tengah dibangun berjarak sekitar 500 meter dari rel kereta. Lokasi ini dipilih untuk tetap menjaga kedekatan warga dengan lingkungan sosial dan sumber penghidupan, namun dengan kondisi tempat tinggal yang lebih aman.