JAKARTA - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon meresmikan pusat riset animasi dan game Indonesia–Tiongkok di Shanghai, Sabtu, 25 April. Langkah ini menandai upaya mendorong Indonesia keluar dari posisi pasar dan mulai masuk sebagai produsen budaya digital.
Peresmian dihadiri Sekjen Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta, Dirjen Endah Retnoastuti, Rektor UI Heri Hermansyah, serta Konsul Jenderal RI di Shanghai Berlianto Situngkir. Sejumlah pelaku industri, akademisi, dan kreator digital juga terlibat.
Fadli menegaskan kerja sama ini tidak lagi berhenti pada pertukaran budaya. Arah baru diarahkan ke produksi bersama yang menghasilkan talenta, riset, hingga kekayaan intelektual (IP).
“Hari ini kita membuka ruang baru bagi kolaborasi budaya dan teknologi, dari pertukaran menuju produksi bersama,” kata Fadli dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu, 26 April.
BACA JUGA:
Ia menyebut Tiongkok memiliki kekuatan pada ekosistem industri dan distribusi. Sementara Indonesia memiliki kekayaan budaya yang bisa menjadi sumber cerita dan karakter.
“Bagi kreator, Indonesia adalah semesta cerita. Tantangannya bagaimana diolah jadi karya yang kuat dan kompetitif,” ujarnya.
Menbud menyebut, data menunjukkan pasar game Indonesia besar, tetapi belum dikuasai pelaku lokal. Pada kuartal I 2026, unduhan game mobile mencapai 870 juta, tertinggi di Asia Tenggara. Jumlah gamer sekitar 192 juta atau 43 persen dari total kawasan. Nilai pasar diperkirakan mencapai 2,5 miliar dolar AS.
Namun, sebagian besar pasar masih diisi game asing. Fadli menilai kondisi ini harus diubah.
“Kita tidak bisa terus jadi konsumen. Harus masuk sebagai produsen dan eksportir IP budaya digital,” tegasnya.
Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari penguatan pembiayaan, riset, teknologi, hingga perlindungan IP. Digitalisasi budaya juga dipercepat melalui basis data dan pengembangan konten berbasis AI, AR/VR, serta animasi.
Hingga kini, lebih dari 4.300 aset budaya telah didigitalisasi. Program Budaya GO! dan IP-Nesia juga mulai mendorong lahirnya gim dan animasi berbasis budaya lokal.
Pusat riset di Shanghai ini diharapkan menjadi penghubung antara teknologi Tiongkok dan konten Indonesia. Targetnya adalah membuka akses pasar global dan memperkuat posisi Indonesia di industri kreatif digital.