Bagikan:

JAKARTA - Monyet-monyet di Batu Gibraltar punya kebiasaan baru yang lucu sekaligus mencemaskan. Mereka makan tanah setelah terlalu sering mendapat camilan dari turis, dari keripik, cokelat, M&M’s, sampai es krim.

Disadur dari laporan The Guardian, Jumat, 24 April, peneliti menduga perilaku itu dilakukan untuk meredakan gangguan pencernaan. Kebiasaan makan tanah ini dikenal sebagai geofagi.

Peneliti mengamati kelompok makaka Barbary di Gibraltar. Hasilnya, monyet yang paling sering bertemu turis justru paling banyak makan tanah. Kebiasaan itu juga meningkat saat musim liburan.

Ada sekitar 230 makaka di Gibraltar yang hidup dalam delapan kelompok. Pemerintah setempat sebenarnya memberi mereka buah, sayuran, dan biji-bijian setiap hari. Masalahnya, banyak turis tetap memberi makanan manusia. Sebagian makanan bahkan dicuri monyet dari pengunjung.

Jenisnya macam-macam: kacang asin, roti, pasta kering, cokelat, Coca-Cola, jus jeruk, M&M’s, hingga es krim. Menurut peneliti, monyet-monyet itu menyukai Magnum dan Cornetto, tetapi kurang suka sorbet.

Dr Sylvain Lemoine, ahli ekologi perilaku primata dari University of Cambridge, mengatakan makanan berlemak, asin, dan manis diduga mengganggu mikrobioma usus monyet. Mikrobioma adalah kumpulan mikroba di saluran pencernaan.

“Kami menduga makanan cepat saji ini mengganggu komposisi mikrobioma. Kami tahu bakteri dan mineral dalam tanah dapat membantu menyusun kembali mikrobioma dan mengurangi dampak negatifnya,” kata Lemoine dikutip The Guardian.

Berdasarkan riset yang dimuat di Scientific Reports, pengamatan pada musim panas 2022 hingga musim semi 2024 menemukan hampir seperlima makanan makaka berasal dari makanan turis. Kelompok di sekitar puncak batu, kawasan favorit wisatawan, dua kali lebih mungkin makan makanan manusia dibanding kelompok lain. Mereka juga paling banyak makan tanah.

Peneliti mencatat 44 monyet makan tanah dalam 46 kejadian. Dalam tiga kasus, monyet makan tanah tak lama setelah diberi es krim, biskuit, atau roti. Saat pengunjung berkurang pada musim dingin, kemungkinan monyet makan makanan turis turun 40 persen. Kebiasaan makan tanah juga turun lebih dari 30 persen.

Peneliti menyebut monyet tampaknya belajar dari kelompoknya. Sebagian besar mencari tanah liat merah atau terra rossa. Namun, kelompok Ape’s Den memilih tanah bercampur tar dari lubang jalan beraspal.

Di sinilah masalahnya. Tanah mungkin membantu perut monyet, tetapi belum tentu aman. Sebagian tanah berada dekat jalan ramai. Peneliti kini ingin memeriksa tingkat polutannya.

Kasus Gibraltar terasa relevan bagi Indonesia. Di banyak tempat wisata, satwa liar masih sering diberi makanan manusia demi foto atau konten. Padahal, kebiasaan itu bisa mengubah perilaku satwa dan mengganggu kesehatannya dalam jangka panjang.

Primatolog Paula Pebsworth dari University of Texas at San Antonio mengatakan geofagi bisa berkaitan dengan detoksifikasi dan kebutuhan mineral. Namun, untuk kasus makanan turis, solusi paling masuk akal bukan membiarkan monyet makan tanah.

Yang harus dikurangi adalah kebiasaan manusia memberi makan satwa liar. Sebab yang sakit perut mungkin monyetnya. Tapi sumber masalahnya tetap manusia.