Bagikan:

SEMARANG - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah menyatakan bahwa peredaran narkoba kini semakin masif memanfaatkan teknologi digital, media sosial, dan jaringan tertutup sehingga lebih sulit dideteksi.

Kepala BNNP Jateng Toton Rasyid saat dikonfirmasi di Semarang, Sabtu, mengatakan tantangan penanganan narkoba saat ini memang semakin kompleks dan dinamis.

"Peredaran narkoba tidak lagi hanya menyasar kota besar, tetapi sudah masuk hingga lingkungan desa, pendidikan, bahkan ruang digital," katanya.

Menurut dia, perubahan pola peredaran narkoba tersebut menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam upaya pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika (P4GN).

"Hal ini membutuhkan adaptasi strategi pencegahan yang lebih modern dan responsif," katanya.

Apalagi, kata dia, saat ini juga muncul berbagai modus baru penyalahgunaan narkotika dengan kemasan dan bentuk yang semakin sulit dikenali masyarakat.

Ia menjelaskan narkotika tidak lagi hanya berbentuk konvensional, tetapi sudah dimodifikasi dan disamarkan dalam bentuk, seperti vape atau liquid rokok elektrik.

"Ada juga yang berbentuk makanan ringan, permen, minuman, cairan tertentu, hingga produk yang menyerupai kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Menurut dia, modus ini sangat berbahaya karena menyasar generasi muda dan berpotensi menurunkan kewaspadaan masyarakat akibat bentuknya yang sulit dibedakan dari produk biasa.

Ia menekankan bahwa perang terhadap narkoba tidak cukup hanya melalui penindakan, tetapi juga melalui pembangunan ketahanan masyarakat dan perlindungan generasi muda.

Sebagai upaya pembangunan ketahanan masyarakat dan perlindungan generasi muda, salah satunya melalui relawan dan pegiat anti narkoba yang memiliki peran sangat strategis sebagai ujung tombak pencegahan di masyarakat.

"Mereka menjadi perpanjangan tangan BNN dalam membangun edukasi, deteksi dini, dan kampanye hidup sehat tanpa narkoba hingga tingkat keluarga dan komunitas," katanya.

Ia menyebutkan selama 2025 tercatat sebanyak 373 penggiat antinarkoba dan 473 relawan antinarkoba aktif di Jateng.

Para relawan dan pegiat antinarkoba dilibatkan dalam berbagai program, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Bersih Narkoba (Bersinar), BBN Masuk Sekolah, dan Program Sinalar (Sinau Narkoba Kanggo Pelajar).

"Kehadiran relawan dan pegiat ini menjadi bukti bahwa P4GN tidak bisa dilakukan oleh BNN sendiri," katanya.

Sesuai semangat War On Drugs For Humanity, kata Toton, masyarakat harus menjadi bagian dari solusi dan agen perubahan di lingkungannya masing-masing.