Bagikan:

JAKARTA — Bandara Changi Singapura melayani sekitar 17,6 juta penumpang pada kuartal pertama 2026, naik 2,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Menurut The Straits Times yang dikutip Jumat, 17 April, kenaikan itu terjadi meski lalu lintas penumpang antara Singapura dan Timur Tengah pada Maret merosot 80 persen akibat gangguan dan pembatalan penerbangan terkait perang Iran.

Dalam periode 12 bulan hingga Maret 2026, lalu lintas penumpang Changi mencapai 70,4 juta, naik 2,9 persen secara tahunan dan menjadi yang tertinggi untuk rentang 12 bulan. Seperti dilaporkan The Straits Times, maskapai merespons situasi itu dengan membuka sekitar 90 penerbangan tambahan dari Singapura ke kota-kota lain seperti Frankfurt, London, Munich, Muscat, Paris, Perth, dan Sydney.

Changi Airport Group mencatat pergerakan pesawat, termasuk pendaratan dan lepas landas, mencapai 95.300 pada Januari-Maret, naik 1,4 persen dibanding setahun sebelumnya. Permintaan perjalanan pada kuartal pertama tetap ditopang lalu lintas yang kuat ke dan dari Asia Utara serta Eropa.

Lima pasar terbesar Changi pada periode tersebut adalah China, Indonesia, Malaysia, Australia, dan India. Dari 10 pasar terbesar, Vietnam dan China mencatat pertumbuhan paling cepat, masing-masing naik 26,5 persen dan 17,7 persen.

Rute tersibuk selama kuartal pertama adalah Kuala Lumpur, Bangkok, Jakarta, Tokyo, dan Hong Kong. Indonesia tetap masuk lima pasar terbesar Changi, sementara Jakarta masih tercatat dalam daftar rute tersibuk.

Dari 10 rute tersibuk, rute ke Shanghai, Taipei, dan Tokyo mencatat pertumbuhan paling kuat. Changi juga menambah pilihan rute yang bersentuhan langsung dengan Indonesia. Di Asia Tenggara, Scoot membuka empat penerbangan mingguan ke Palembang, selain lima penerbangan mingguan ke Chiang Rai, Thailand.

Sementara itu, Jetstar Airways menambah layanan ke Sunshine Coast dan Newcastle melalui Bali, sehingga koneksi Changi ke Australia bertambah menjadi sembilan kota. Wakil Presiden Eksekutif CAG untuk pusat penerbangan dan pengembangan kargo, Lim Ching Kiat, mengatakan permintaan perjalanan tetap kuat, ditopang pertumbuhan di Asia Utara dan Eropa.

Meski krisis Timur Tengah berdampak pada sebagian pasar, CAG, kata Lim Ching Kiat, tetap bekerja erat dengan maskapai untuk merespons perubahan permintaan dan pola perjalanan. Sepanjang 2025, Changi mencatat rekor 69,98 juta penumpang, melampaui capaian 68,3 juta pada 2019.

Pada kuartal pertama 2026, bandara itu juga menangani 517.000 ton kargo udara, naik 7,6 persen. Lima pasar kargo terbesar dari Januari hingga Maret adalah China, Amerika Serikat, Australia, Hong Kong, dan India.