Bagikan:

JAKARTA - Seorang pria Palestina di Jalur Gaza mengungkapkan tidak pernah membayangkan akan kehilangan calon anak yang dikandung istrinya karena pengungsian, bukan karena peluru atau penembakan oleh pendudukan Israel, saat tenda yang mereka gunakan untuk berlindung selama hampir setahun roboh menimpa ia dan istrinya yang sedang hamil saat angin kencang.

Mohammed al-Daya (36), pengungsi di kamp Al-Ataa yang didanai Qatar di Jalan Salah al-Din di pintu masuk kamp pengungsi al-Bureij di Jalur Gaza tengah, saat ini sedang menunggu di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis untuk mendapatkan informasi terbaru tentang kondisi istrinya, Marleen Emad (30) yang masih dalam keadaan koma di unit perawatan intensif dan belum mengetahui janin mereka yang berusia tujuh bulan telah meninggal.

Al-Daya menceritakan apa yang terjadi, mengatakan angin kencang selama badai baru-baru ini menyebabkan tenda roboh, dan salah satu batang logamnya jatuh menimpa perut istrinya yang sedang hamil, melukainya, dikutip dari WAFA (14/4).

Dituturkannya, awalnya ia memindahkan istrinya ke Rumah Sakit Al-Awda di Jalur Gaza tengah, di mana ia diberitahu bahwa kondisinya stabil. Namun, kesehatannya dengan cepat memburuk setelah kembali ke kamp pengungsi. Ia kehilangan kesadaran dan dengan susah payah dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, di mana pemeriksaan medis mengonfirmasi kematian janin dan mengungkapkan pendarahan internal parah yang mengancam nyawanya.

Dia mengatakan sang istri masih dalam kondisi koma di unit perawatan intensif, dalam kondisi kritis, sementara dokter tidak dapat melahirkan bayinya sampai kondisinya stabil.

Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam, bahwa kehilangan bayinya adalah konsekuensi dari hidup di kamp pengungsian, dan mengungkapkan ketakutannya akan kehilangan istrinya kapan saja, mengingat keseriusan kondisinya.

Diketahui, keluarga tersebut telah mengungsi tujuh kali sebelum menetap di kamp Al-Ataa, setelah rumah mereka di kamp Al-Bureij timur hancur total.

Situasi ini menyoroti kondisi mengerikan yang dihadapi oleh pengungsi Palestina di seluruh Gaza, di mana sekitar 1,5 juta pengungsi tinggal di tenda-tenda rapuh atau tempat penampungan sementara, di tengah laporan yang mengatakan bahwa sekitar 125.000 dari 135.000 tenda telah roboh, membuat sebagian besar tenda tidak layak huni dan membuat penghuninya menghadapi risiko yang lebih tinggi, terutama selama musim dingin.