Bagikan:

JAKARTA - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ingin Amerika Serikat dan Iran melanjutkan perundingan damai, mengatakan tidak ada solusi militer untuk konflik yang terjadi di Timur Tengah.

PBB mengatakan, setelah berminggu-minggu kehancuran dan kesulitan, jelas tidak ada solusi militer untuk konflik yang tengah terjadi di Kawasan Timur Tengah saat ini.

Juru bicara Stéphane Dujarric dalam pernyataan yang dikeluarkan PBB Hari Senin mengatakan, meskipun tidak ada kesepakatan yang dicapai selama pembicaraan yang diselenggarakan oleh Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, diskusi itu sendiri mencerminkan keseriusan keterlibatan kedua belah pihak dan merupakan langkah positif dan bermakna menuju dimulainya kembali dialog.

Mengingat dalamnya perbedaan yang ada, kesepakatan tidak dapat dicapai dalam semalam, menekankan Sekretaris Jenderal PBB menyerukan kelanjutan pembicaraan dalam semangat konstruktif yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan, katanya seperti melansir WAFA (14/4).

Dujarric menekankan, gencatan senjata harus dipertahankan sepenuhnya dan semua pelanggaran harus dihentikan, menambahkan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik harus menghormati kebebasan navigasi, termasuk di Selat Hormuz, sesuai dengan hukum internasional.

Diberitakan sebelumnya, perundingan Iran dan Amerika Serikat yang digelar di Islamabad, Pakistan pada Hari Sabtu mengalami kebuntuan lantaran perbedaan kedua belah pihak.

Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan antara lain didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Sedangkan delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan antara lain didampingi Utusan Khusus Steve Witkoff.

Perundingan digelar menyusul kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang diumumkan kedua belah pihak pada pekan lalu, membawa angin segar bagi kawasan Timur Tengah yang dilanda konflik.

Ketegangan pecah di Timur Tengah pada 28 Februari, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior dan petinggi militer.

Negeri Para Mullah membalas dengan menyasar wilayah Israel serta fasilitas terkait Amerika Serikat di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Israel juga membatasi dengan ketat Selat Hormuz yang dilalui seperlima atau sekitar 20 persen lalu lintas minyak dan LNG dunia setiap harinya.