JAKARTA - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada akhir pekan, sedikitnya 10 orang di Jalur Gaza telah meninggal dalam 24 jam terakhir akibat hujan lebat, sementara ribuan keluarga Palestina yang mengungsi berlindung di tenda-tenda dengan sedikit perlindungan dari kondisi musim dingin yang keras.
Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan di media sosial, kombinasi paparan cuaca ekstrem, air dan sanitasi yang tidak memadai, dan kondisi tempat tinggal yang padat kemungkinan akan menyebabkan lonjakan infeksi pernapasan akut, termasuk influenza, serta hepatitis dan penyakit diare.
Ia mengatakan, WHO terus menghadapi hambatan dalam mengirimkan reagen laboratorium dan peralatan diagnostik ke Gaza, mencatat banyak pasokan telah ditolak masuk setelah diklasifikasikan sebagai barang penggunaan ganda, dilansir dari Anadolu (15/12).
Lebih lanjut Tedros menyerukan agar bahan-bahan penting tersebut segera masuk, dengan mengatakan bahan-bahan tersebut sangat penting untuk deteksi, respons dan pengobatan tepat waktu bagi orang-orang yang menghadapi wabah penyakit di wilayah kantong Palestina itu.
Diberitakan sebelumnya Badai Byron yang menerjang Gaza pekan lalu, menimbulkan peringatan terhadap kondisi pengungsi di tenda-tenda yang terendam banjir dan diterpa hawa dingin. Kondisi itu menyebabkan sejumlah orang tewas, termasuk balita di tengah kondisi pengungsian yang memprihatinkan.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) telah memperingatkan dampak Badai Byron terhadap Gaza, yang telah hancur akibat perang Israel.
"Orang-orang yang telah kehilangan segalanya dan membutuhkan segalanya menghadapi lapisan penderitaan lain," kata Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini dalam unggahan di X.
"Lebih banyak kesulitan bagi keluarga pengungsi yang tinggal di tempat penampungan darurat dengan hujan yang membawa banjir, kerusakan, dan ancaman kesehatan tambahan," tambahnya.
Sementara itu, korban tewas Palestina akibat konflik terbaru di Gaza dengan Israel pecah pada 7 Oktober 2023 terus bertambah, meski ada kesepakatan gencatan senjata yang dicapai Oktober lalu.
Sumber medis di Gaza mengonfirmasi pada Hari Minggu, jumlah korban tewas Palestina di wilayah tersebut telah mencapai 70.663 orang, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, dikutip dari WAFA.
BACA JUGA:
Otoritas kesehatan setempat juga melaporkan, jumlah total korban luka telah meningkat menjadi 171.139, dengan banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan, dan tim darurat serta penyelamat tidak dapat menjangkau mereka.
Sejak perjanjian gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, total 391 korban tewas dan 1.063 korban luka telah tercatat, dan 632 jenazah telah ditemukan.