JAKARTA - Kepala negosiator Hamas Khalil al-Hayya memperingatkan pada Hari Minggu, serangan Israel yang ditargetkan untuk membunuh salah satu komandan senior kelompok militan Palestina itu mengancam "keberlangsungan gencatan senjata" di wilayah tersebut.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, al-Hayya, yang juga Kepala Hamas Gaza di pengasingan, mengonfirmasi serangan Israel pada Hari Sabtu menewaskan salah satu komandan senior Hamas, Raed Saed.
"Pelanggaran Israel yang terus berlanjut terhadap perjanjian gencatan senjata dan pembunuhan terbaru yang menargetkan Saed dan lainnya mengancam keberlangsungan perjanjian tersebut," ujar al-Hayya, melansir Al Arabiya dari Reuters (14/12).
"Kami menyerukan kepada para mediator, dan terutama penjamin utama, pemerintahan AS dan Presiden Donald Trump untuk berupaya mewajibkan Israel untuk menghormati gencatan senjata dan berkomitmen padanya," serunya.
Ini adalah pembunuhan tokoh senior Hamas paling terkenal sejak kesepakatan gencatan senjata Gaza yang ditengahi Mesir, Qatar, Amerika Serikat dan Turki mulai berlaku Oktober lalu.
Sumber-sumber Hamas menggambarkan Saed sebagai orang kedua dalam komando sayap bersenjata kelompok tersebut, setelah Izz eldeen al-Hadad.
Israel sendiri menuduh Saed adalah salah satu arsitek utama serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel yang memicu perang.
Dalam kesempatan yangs ama Al-Hayya juga berbicara tentang usulan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang disahkan PBB.
BACA JUGA:
"Peran pasukan internasional harus dibatasi untuk menjaga gencatan senjata dan memisahkan kedua pihak di sepanjang perbatasan Gaza tanpa peran apa pun di dalam Jalur Gaza atau campur tangan dalam urusan domestiknya," tegasnya
Pengerahan pasukan tersebut merupakan bagian penting dari fase selanjutnya dari rencana perdamaian Gaza Presiden AS Donald Trump.
Di bawah fase pertama, gencatan senjata yang rapuh dalam perang yang telah berlangsung selama dua tahun dimulai pada 10 Oktober dengan Hamas membebaskan sandera dan Israel membebaskan warga Palestina yang ditahan.