Bagikan:

JAKARTA - Menteri Pertahanan Israel mengklaim negaranya berada di balik serangan yang menewaskan kepala intelijen satuan elite Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Media Iran mengutip pernyataan IRGC menyebutkan, kepala organisasi intelijen korps tersebut tewas pada Hari Senin dalam "serangan teroris oleh musuh Amerika-Zionis (Israel).

Brigadir Jenderal Majid Khademi, yang menjadi tokoh kunci terbaru yang tewas dalam serangan udara AS-Israel, mengambil alih jabatan pada tahun 2025 setelah serangan udara Israel menewaskan pendahulunya, seperti melansir Al Arabiya (6/4).

Ia menghabiskan puluhan tahun dalam peran intelijen dan kontra-spionase sambil meniti karier di aparat keamanan Iran.

Sebelum pengangkatannya, Brigjen Khademi memimpin Organisasi Perlindungan Intelijen Garda Revolusi, yang bertugas melakukan pengawasan internal dan kontra-intelijen, dan memegang peran senior di kementerian pertahanan Iran.

Sayap intelijen IRGC adalah salah satu badan keamanan Iran yang paling kuat, dengan peran sentral dalam pengawasan domestik untuk melawan pengaruh asing, dan sering beroperasi paralel dengan kementerian intelijen sipil.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan militer negaranya berada di balik serangan tersebut, dan menyatakan itu adalah tanggapan terhadap serangan Iran terhadap wilayah sipil di Israel.

Katz menyebut Khademi sebagai "salah satu pelaku langsung kejahatan perang ini dan salah satu dari tiga pejabat tertinggi dalam organisasi tersebut," dan mengatakan tentang para pemimpin Iran: "Kami akan terus memburu mereka satu per satu."

Diketahui, ketegangan regional telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Negeri Para Mullah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Selain itu, Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, jalur air yang menjadi salah satu urat nadi transportasi minyak dan gas global .