Bagikan:

JAKARTA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Hari Rabu menyebut Pemerintah Israel bertanggung jawab utama atas "perang tidak sah" yang sedang berlangsung terhadap Iran.

"Pemerintah Israel memikul tanggung jawab utama atas perang tidak sah ini, yang tidak hanya mengubah kawasan kita menjadi zona konflik tetapi juga telah membebani perekonomian seluruh umat manusia," kata Presiden Erdogan, dalam pertemuan kelompok parlemen Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di ibu kota Ankara, dikutip dari Anadolu (1/4).

"Jangan sampai dilupakan bahwa setiap tetes darah yang tertumpah dalam perang akan memperpanjang kelangsungan politik (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu," sebutnya.

Lebih lanjut Presiden Erdogan mengatakan konflik yang dimulai pada 28 Februari di kawasan itu telah menyelesaikan bulan pertamanya dan terus berlanjut dengan tingkat ancaman dan bahaya yang meningkat, menambahkan prioritas Turki adalah untuk melewati masa yang penuh gejolak ini tanpa membahayakan dan bahwa negara itu bertekad untuk menjauhkan negara dari kobaran api.

"Di antara bahaya utama yang dihadapi kawasan kita bukan hanya perpanjangan perang, tetapi juga risiko berkembangnya perang menjadi konflik regional yang lebih luas, karena serangan balasan yang menargetkan energi, transportasi, dan infrastruktur sipil sayangnya meningkatkan kemungkinan ini," jelas Presiden Erdogan.

Ia mengatakan, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menghadiri pertemuan empat pihak di Islamabad dengan rekan-rekannya dari Arab Saudi, Mesir, dan Pakistan, di mana kekhawatiran dibahas, dan langkah-langkah untuk mengakhiri perang dibahas.

Menteri Pertahanan Nasional Yasar Guler dan kepala Organisasi Intelijen Nasional (MIT) Ibrahim Kalin, dan pejabat lainnya juga melakukan upaya intensif di bidang masing-masing, tambahnya.

"Jika ada secercah harapan untuk mengakhiri pertumpahan darah, untuk mengeringkan air mata, untuk membungkam senjata, dan untuk penyelesaian masalah melalui diplomasi, adalah tugas kita untuk meraihnya," kata Presiden Erdogan.

"Sejak awal perang, pendirian Turki yang berprinsip, sikapnya, dan pesan-pesan yang telah dikirimkannya kepada dunia dan kawasan telah menjadi suara kemanusiaan dan hati nurani," tambahnya.

Perang dengan Iran tidak mendukung visi perdamaian global, melainkan justru merusaknya, kata Presiden Erdogan, menekankan bahwa diplomasi, dialog dan kompromi adalah alat terbaik yang tersedia untuk keluar dari kebuntuan ini, dan menggarisbawahi perlunya mencari titik temu daripada bersikeras pada tuntutan maksimalis.

"Harapan kami adalah jalan menuju perdamaian akan terbuka tanpa pertumpahan darah lebih lanjut, dan untuk itu, kami akan terus melakukan segala yang kami bisa, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan diri kami sendiri," tandas presiden Turki.