JAKARTA - Para anggota parlemen dan sekutu Amerika Serikat meminta Departemen Pertahanan (Departemen Perang) AS menjelaskan rincian proyek sistem pertahanan rudal Golden Dome, termasuk rencana pengeluarannya selama dua tahun ke depan.
Dilansir ANTARA dari Sputnik, Jumat, 27 Maret, beberapa anggota parlemen meyakini proyek tersebut kurang transparan dan tidak realistis dalam hal biaya dan jangka waktu.
Mereka telah mengalokasikan hampir 25 miliar dolar AS (sekitar Rp424,5 triliun) untuk proyek Golden Dome menjadi bagian dari rancangan undang-undang (RUU) tahun lalu.
Namun kini, anggota parlemen itu mengeluhkan tanpa informasi tambahan, mereka tidak dapat menilai sumber daya yang tersedia, kata laporan itu.
Selain itu, wajib pajak Amerika, industri pertahanan, dan sekutu Amerika mengharapkan kejelasan lebih lanjut.Tanpa penjelasan lebih detail, para kontraktor tidak dapat membuat keputusan tentang investasi besar dalam pengembangan baru dan perluasan produksi.
BACA JUGA:
Kemudian, para mitra Washington juga tidak akan dapat memahami kontribusi apa yang dapat mereka berikan untuk proyek tersebut, tambah laporan media tersebut.
Sebelumnya pada Mei 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan proyek Golden Dome, yang diperkirakan menelan biaya hampir 175 miliar dolar AS (sekitar Rp2,97 kuadriliun).
Perisai berlapis-lapis itu akan mengintegrasikan sistem darat, laut, dan ruang angkasa untuk melindungi Amerika dari ancaman rudal. Uji coba besar pertama Golden Dome dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun 2028.