JAKARTA — Paus Leo XIV pada Minggu menyampaikan seruan paling tegas sejauh ini untuk menghentikan perang di Timur Tengah. Ia meminta pihak yang bertanggung jawab segera melakukan gencatan senjata agar jalur dialog kembali terbuka.
Melansir HuffPost, Senin, 16 Maret, seruan itu disampaikan Paus Leo pada akhir doa berkat Minggu siang di Vatikan. Ia tidak menyebut Amerika Serikat atau Israel secara langsung. Namun, ia berbicara kepada para pemimpin yang bertanggung jawab atas konflik yang kini menghantam Iran dan meluas ke kawasan.
“Atas nama umat Kristen di Timur Tengah dan seluruh perempuan serta laki-laki yang berkehendak baik, saya menyerukan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab atas konflik ini. Hentikan tembakan agar jalan dialog dapat dibuka kembali,” kata Paus Leo. Ia menegaskan kekerasan tidak akan membawa keadilan, stabilitas, dan perdamaian yang dinanti rakyat.
BACA JUGA:
Paus pertama asal Amerika Serikat itu juga menyinggung serangan yang menghantam sebuah sekolah pada hari-hari awal perang. Serangan itu diduga merujuk pada serangan rudal ke sekolah dasar di Iran yang menewaskan lebih dari 165 orang, banyak di antaranya anak-anak. Pejabat AS mengatakan serangan itu kemungkinan dipicu intelijen yang kedaluwarsa dan kini masih diselidiki.
Vatikan memberi perhatian besar pada serangan di Minab. Surat kabar resmi Vatikan, L’Osservatore Romano, memuat foto udara penggalian kubur massal bagi para korban anak-anak dengan judul “Wajah Perang”. Paus Leo juga menyatakan dirinya dekat dengan keluarga korban serangan yang menghantam sekolah, rumah sakit, dan kawasan permukiman. Ia secara khusus menyoroti dampak perang di Lebanon, ketika kelompok bantuan memperingatkan ancaman krisis kemanusiaan.
Selama dua pekan terakhir, Paus Leo cenderung menahan diri dan hanya menyerukan diplomasi. Sikap itu dinilai sejalan dengan tradisi netralitas diplomatik Vatikan. Namun di saat yang sama, sejumlah pejabat tinggi Gereja mulai berbicara lebih lugas. Kardinal Robert McElroy, masih mengutip Huffpost, menyebut perang itu tidak bisa dibenarkan secara moral.
Kardinal Blase Cupich mengaku muak melihat Gedung Putih memakai citra video gim dalam pesan media sosial soal perang. Sementara Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menolak klaim Washington tentang “perang pencegahan”, meski Tahta Suci tetap membuka jalur dialog dengan semua pihak.