JAKARTA - PT PAM Jaya (Perseroda) mengembangkan teknologi untuk menekan kebocoran jaringan pipa air bersih di Jakarta. Inovasi tersebut memungkinkan perbaikan dilakukan dari dalam pipa tanpa harus membongkar jalan.
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menjelaskan teknologi ini bekerja dengan cara memasukkan gel khusus ke dalam jaringan pipa yang mengalami kebocoran. Gel tersebut akan menutup lubang yang ada di dalam pipa.
"Kami kosongi dulu pipa, dia vakumisasi, dan kemudian masuk gel, dia dorong gitu ya, dia pakai ada yang namanya apa, bulat gitu peluru. Itu dia langsung ini gel-nya nutup, kemudian direkat sama ininya apa pendorongnya, airnya di belakangnya udah ngikut langsung dan itu langsung kering," kata Arief di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 11 maret.
Dengan metode tersebut, perbaikan dapat dilakukan tanpa perlu menggali jalan yang selama ini kerap menimbulkan gangguan lalu lintas.
Namun, Arief menegaskan teknologi ini hanya efektif untuk menutup kebocoran berukuran kecil. Jika kerusakan pipa terlalu besar, perbaikan tetap harus dilakukan dengan metode konvensional.
"Karena ini gel ini kita memang buat lubang-lubang, yang lubang-lubang yang diameternya masih dalam skala yang cukup, ya udah kita masih bisa tambal jadi kami nggak perlu bongkar," jelasnya.
Selain mengatasi kebocoran kecil, PAM Jaya juga menyiapkan langkah besar untuk menekan tingkat kehilangan air melalui program Non-Revenue Water (NRW).
Program tersebut akan dilakukan dengan mengganti serta merehabilitasi jaringan pipa air yang saat ini beroperasi di Jakarta.
"Walaupun di tahun ini juga kita akan launching namanya program project NRW. Penggantian, rehabilitasi pipa yang ada di Jakarta yang sepanjang mungkin kurang lebih akan mencapai 80 persen, itu sekitar kurang lebih 7.000 sampai 8.000 kilometer," ujar Arief.
Proyek penggantian jaringan pipa ini rencananya tidak sepenuhnya menggunakan anggaran daerah. PAM Jaya akan menggandeng pihak swasta melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha.
"Tapi insyaallah mudah-mudahan gampang tidak membebani APBD, semuanya kerja sama berbasis KPBU atau Public Private Partnership," pungkasnya.
Saat ini, cakupan layanan air perpipaan di Jakarta terus meningkat. PAM Jaya mencatat layanan air bersih telah menjangkau lebih dari 80,24 persen wilayah Jakarta.
Jaringan tersebut memiliki panjang pipa mencapai 12.835,21 kilometer dengan jumlah pelanggan 1.178.022. Sementara air yang terdistribusi mencapai 22.583 liter per detik.
Dari sisi sumber air baku, sebagian besar masih berasal dari luar wilayah Jakarta. Sekitar 92 persen air baku bersumber dari Waduk Jatiluhur di Purwakarta, sedangkan sisanya delapan persen berasal dari sumber di Jakarta.
Untuk air yang telah diolah, sebanyak 88 persen juga berasal dari luar Jakarta dan 12 persen diproduksi dari instalasi pengolahan air di dalam kota.
Sehubungan dengan hal itu, PAM Jaya juga berencana megoperasikan teknologi penangkap air dari atmosfer yang bisa langsung diolah menjadi air minum.
Arief mengatakan, teknologi tersebut akan dihadirkan melalui kerja sama dengan mitra strategis dari Swiss. Menurut Arief, teknologi yang dimaksud mampu menangkap uap air di udara, lalu memprosesnya menjadi air siap minum.
"Tidak lama lagi kita kerja sama dengan Swiss gitu. Nanti kami akan punya alat yang namanya trapping atmosphere. Jadi mereka menangkap titik air di udara. Jadi udara kita kan ada, ada sebagiannya air juga. Jadi ditangkap, itu diproses," ucap Arief.
Arief menjelaskan alat tersebut tidak memerlukan sumber air baku seperti sungai atau waduk. Titik-titik air yang ditangkap dari atmosfer akan langsung diproses pemurniannya menjadi air yang langsung bisa diminum.
Saat ini, PAM Jaya telah memesan perangkat teknologi tersebut dan menargetkan dalam beberapa bulan ke depan alatnya bisa diperkenalkan kepada publik.
Rencananya, PAM Jaya akan membangun titik-titik water station atau water hub di sepanjang koridor Sudirman–Thamrin setelah mendapat persetujuan dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Air yang dihasilkan nantinya dapat langsung diminum secara gratis oleh masyarakat.
"Mudah-mudahan di tahun ini semuanya bisa jalan. Mudah-mudahan di pertengahan tahun ini kita bisa groundbreaking. Jadi water hub atau water station ini akan ada di Sudirman-Thamrin dan itu langsung dirinkable water," ucap Arief.
Melanjutkan, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike menegaskan pihaknya akan terus mengawal program pembangunan jaringan air perpipaan hingga seluruh warga Jakarta mendapatkan layanan air bersih.
Menurut Yuke, DPRD memastikan alokasi anggaran pembangunan jaringan air benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat.
"DPRD sangat berkomitmen untuk memastikan alokasi anggaran itu betul-betul untuk realisasi belanja yang tepat sasaran dan untuk kepentingan masyarakat DKI Jakarta," ujar Yuke.
DPRD juga akan mengawasi agar pembangunan jaringan pipa bisa menjangkau wilayah yang selama ini belum terlayani.
"Jadi apa yang diberikan oleh DPRD, ya itu memastikan semua program-program khususnya terkait pipanisasi yang sudah dianggarkan ini cakupannya sampai ke seluruh yang tidak terjangkau selama ini," katanya.
BACA JUGA:
Ia menekankan layanan air bersih harus lebih berpihak kepada masyarakat kecil yang selama ini masih kesulitan mendapatkan akses air layak.
"Kami harus memastikan bahwa ini berpihak kepada masyarakat kecil, yang selama ini mungkin terabaikan, tidak hanya untuk yang industri-industri atau untuk yang besar-besar saja," ujarnya.