Bagikan:

JAKARTA - Banyaknya proyek-proyek galian pipa air bersih PAM Jaya di Jakarta saat ini kerap dikeluhkan masyarakat. Sebab, proyek itu mengokupansi sebagian badan jalan, sehingga mengakibatkan kemacetan lalu lintas.

Tapi, warga Jakarta masih harus sabar menghadapi macet akibat proyek galian pipa ini. Sebab, pada tahun depan, proyek ini masih akan berlanjut.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengaku, pada 2026, PAM Jaya akan melaksanakan proyek pemasangan pipa air bersih hingga 100 titik galian.

"Untuk galian nanti di 2026, jalan terdampaknya berarti kurang lebih sekitar hampir ada 100 titik pit," kata Arief kepada wartawan, Minggu, 21 September.

Arief menguraikan, dari 100 titik itu, PAM Jaya akan memasang sambungan pipa layanan air hingga 700 kilometer, yang mencakup jaringan distribusi utama (JDU) hingga jaringan distribusi pembagi (JDP).

"Itu untuk (aliran air dari instalasi) Jatiluhur Hilir 1, Buaran 3, dan kemudian satu lagi dari karian Serpong, tapi nanti mungkin lewat empat IPA kita yang sedang kita bangun, yang kita bangun.

Arief pun menyadari proyek-proyek galian ini masih menyulitkan masyarakat dalam bermobilitas. "Memang sekali lagi kepada masyarakat, kami mohon maaf, ada chamber control yang tak bisa ditutup," ujarnya.

Meski demikian, Arief berjanji PAM Jaya akan meminimalisasi area badan jalan yang termakan area proyek galian.

Saat ini, cakupan layanan air yang dikelola PAM Jaya mencapai 74,24 persen. Sementara, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan pemenuhan layanan PAM bisa 100 persen pada tahun 2029.

Meski demikian, Arief mengaku BUMD DKI bidang pelayanan air ini memiliki banyak tantangan untuk mewujudkan tuntutan pemenuhan cakupan layanan air.

Tantangan terbesar PAM Jaya masih terkait penyediaan air baku. Bendungan Karian yang dijanjikan Kementerian PUPR hingga kini belum bisa berkontribusi, sementara 85 persen pasokan air Jakarta masih dari luar wilayah, termasuk Jatiluhur.

“Tapi pesan Pak Gubernur jelas, jangan bergantung pada satu sumber. Kami cari alternatif, bahkan ke Banten,” ujarnya.

Di sisi lain, usia jaringan pipa yang sudah menua juga menjadi pekerjaan berat. Sebanyak 70 persen pipa berusia 25–40 tahun, sebagian besar bukan food grade, rawan kebocoran, dan memicu tingginya non-revenue water (NRW). Kerugian akibat kebocoran diperkirakan mencapai Rp1 triliun per tahun.

Untuk menutup celah itu, PAM Jaya menyiapkan empat instalasi pengolahan air (IPA) baru di Semanan, Muara Karang, Condet, dan Kanal Banjir Barat 2. Teknologi water purifier juga diluncurkan agar air tetap layak minum meski melewati pipa lama.

“Air perpipaan PAM hanya Rp1 per liter, sangat murah dibanding air kemasan. Kami ingin masyarakat beralih,” imbuh dia.