Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui KBRI Tehran melakukan upaya diplomasi dan koordinasi dengan Pemerintah Iran, terkait keamanan dua tanker milik Pertamina berada di Selat Hormuz, di tengah eskalasi yang terjadi di Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu pekan lalu, membuat situasi kawasan bergejolak, dengan Selat Hormuz yang berada di wilayah Iran dan memiliki peran vital, ikut terdampak.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Arab dengan Teluk Oman untuk kapal yang ingin melakukan perjalanan ke Laut Arab atau Samudra Hindia. Selat ini menjadi bagian dari lalu lintas pasokan minyak dan gas dunia.

"Hal tersebut (tanker Pertamina) sedang di-follow up oleh teman-teman kita di KBRI Tehran. Karena memang diskusinya harus dilakukan dengan Pemerintah Iran. Saat ini sedang dilakukan upaya diplomasi, upaya koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Iran, untuk memastikan kepentingan Indonesia terkait dengan Pertamina itu dapat terus diberikan pelindungan dari sisi dapat melintas Selat Hormuz itu dengan aman," jelas Dirjen Asia, Pasik, Afrika Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (7/3).

"Kondisinya secara umum memang masih belum kondusif, tapi kita terus upayakan melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak Pemerintah Iran," tandasnya.

Dubes Santo menambahkan, situasi yang terjadi di Timur Tengah akan berdampak terhadap Indonesia, terkait dengan pasokan minyak dan kawasan Timur Tengah merupakan mitra dagang Indonesia yang cukup besar.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan ada dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz dan tengah sandar untuk mencari tempat aman, seperti melansir Antara.

Badan Maritim Internasional (IMO) telah menyerukan agar kapal-kapal menghentikan semua transit di wilayah tersebut hingga kondisi membaik, menyusul ancaman serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut dikutip dari The National.

Situasi yang terjadi di Timur Tengah menyebabkan sekitar 200 kapal tanker terjebak di Selat Hormuz. IMO memperkirakan 20.000 pelaut turut terdampak Dalam situasi normal, selat tersebut dilalui sekitar seperlima lalu lintas minyak dunia.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohamad Boroujerdi dalam keterangan kepada wartawan pada Hari Kamis memastikan Selat Hormuz tidak ditutup dan dapat dilalui dengan mematuhi protokol lalu lintas khusus yang diberlakukan saat perang yang diterapkan Iran.

"Selat Hormuz tetap terbuka. Selat ini hanya memberlakukan protokol khusus saat perang. Pihak yang mematuhi dapat dengan mudah melewati Selat Hormuz," kata Dubes Boroujerdi.