Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyatakan dukungan pada rencana penulisan Ensiklopedia Filsafat Nusantara yang digarap Yayasan Toeti Heraty Roosseno. Dalam pertemuan di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Selasa, 3 Maret, Fadli menilai proyek ini penting karena penulisan tentang filsuf-filsuf Indonesia masih jarang, padahal jejak pemikiran mereka menjadi bagian dari warisan kebudayaan bangsa.

“Indonesia sebetulnya punya banyak filsuf ulung,” kata Fadli. Ia menyebut beberapa nama dan figur lintas zaman seperti Mpu Tantular, Sukarno, hingga Pramoedya Ananta Toer sebagai contoh tokoh yang pemikirannya layak dikaji, ditulis, dan didokumentasikan agar tidak hilang di generasi berikutnya.

Fadli menekankan, pekerjaan rumah kebudayaan bukan hanya merawat benda atau ritus, tetapi juga membongkar lapisan gagasan di baliknya. Ia mendorong kajian filosofis atas warisan budaya Indonesia, termasuk warisan takbenda yang telah tercatat di UNESCO. Menurutnya, kajian semacam itu akan memperkuat identitas sekaligus diplomasi budaya Indonesia di level global.

Ia memberi contoh keris, wayang, dan batik yang memiliki filosofi mendalam. Bila ditulis dengan pendekatan yang kuat, pembaca tidak hanya mengenal bentuknya, tetapi memahami maknanya. “Misalnya seperti batik, tentu setiap motifnya juga punya filosofi masing-masing yang dapat dituangkan menjadi sebuah tulisan,” ujarnya.

Kementerian Kebudayaan, kata Fadli, siap mendukung penyusunan Ensiklopedia Filsafat Nusantara melalui penguatan jejaring akademik lintas disiplin dan fasilitasi akses sumber-sumber relevan.

Ketua Yayasan Toeti Heraty Roosseno Migni Miriasandra Noerhadi berharap ensiklopedia ini memperkuat pemajuan kebudayaan, dari pengembangan nilai luhur, memperkaya keberagaman, hingga menjadi rujukan bagi akademisi, pelajar, dan publik. “Ensiklopedia ini juga diharapkan dapat menjadi referensi yang bernilai,” ujarnya.

Pertemuan dihadiri antara lain Staf Ahli Menbud Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya Annisa Rengganis, Direktur Museum dan Sejarah Agus Mulyana, serta Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi KI Yayuk Sri Budi Rahayu. Dari yayasan hadir Direktur Cemara 6 Galeri Inda Citraninda Noerhadi, , Ketua Tim Redaksi ensiklopedia Tommy F Awuy, serta Tim Ahli Bahasa dan Sastra Titi Surti Nastiti.