Bagikan:

JAKARTA - Wakil Presiden JD Vancemenepis kemungkinan Amerika Serikat akan terlibat ke dalam konflik bersenjata berkepanjangan di Timur Tengah jika Presiden Donald Trump memilih untuk menyerang Iran.

"Gagasan kita akan terlibat perang di Timur Tengah selama bertahun-tahun tanpa akhir yang jelas — itu tidak akan terjadi," kata Vance kepada The Washington Post dilansir ANTARA dari Sputnik, Jumat, 27 Februari.

Dia mengatakan hingga kini belum dapat dipastikan apakah presiden AS akan melanjutkan jalur diplomatik dalam pembicaraan dengan Iran, atau memilih opsi militer. Namun, Vance percaya serangan udara, bahkan jika cakupannya lebih besar daripada bulan Juni, tidak akan meningkat menjadi konflik besar-besaran.

Vance mengatakan dirinya masih bersikap "skeptis terhadap intervensi militer di luar negeri ," tetapi menambahkan "Hanya karena satu presiden gagal dalam konflik militer bukan berarti kita tidak akan pernah terlibat dalam konflik militer lagi."

"Saya pikir kita semua lebih menyukai opsi diplomatik," katanya. "Tapi itu benar-benar tergantung pada apa yang dilakukan dan dikatakan Iran," lanjutnya.

Iran dan AS telah mengadakan tiga putaran pembicaraan mengenai isu nuklir Iran. Saat ini, kedua pihak sedang menyusun proposal untuk kemungkinan kesepakatan.

Pada Januari, Trump mengatakan "armada besar" sedang menuju Iran, seraya menambahkan ia berharap Teheran setuju untuk bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang "adil dan merata".

Trump mengingatkan pada Juni 2025, Amerika Serikat telah menyerang fasilitas nuklir Iran sebagai bagian dari Operasi Midnight Hammer. Ia mengatakan serangan berikutnya akan lebih buruk dan menyerukan agar hal itu jangan sampai terjadi.