Bagikan:

JAKARTA - Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Reuters pada Hari Minggu, Ia telah menerima "respons yang sangat baik" atas usulannya untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza, Palestina dan optimistis akan mendapatkan dukungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ketika keduanya bertemu pada Hari Senin.

Ia mengatakan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump yang merupakan utusan Timur Tengah selama masa jabatan pertamanya, sedang berunding dengan PM Netanyahu di New York menjelang pertemuan Hari Senin di Gedung Putih.

"Kami mendapatkan respons yang sangat baik karena Bibi juga ingin mencapai kesepakatan itu," kata Trump dalam wawancara telepon, menggunakan nama panggilan Netanyahu, melansir Reuters 29 September.

"Semua orang ingin mencapai kesepakatan itu," tandasnya.

Kemarin, Presiden Trump pada Hari Minggu memuji para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Mesir dan Yordania, antara lain, atas bantuannya dalam proses tersebut.

Ia mengatakan kesepakatan itu tidak hanya akan mengakhiri konflik Gaza, tetapi juga akan mengupayakan perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah.

"Semua orang terlibat," katanya.

"Semua orang menginginkannya, dan Hamas menginginkannya, dan salah satu alasannya adalah karena semua orang sudah lelah" dengan perang, lanjut Presiden Trump.

Kendati demikian, Presiden Trump tidak memberikan detail spesifik tentang perjanjian gencatan senjata untuk para sandera di Gaza, tetapi Wakil Presiden JD Vance mengatakan kepada "Fox News Sunday", para pejabat tinggi AS sedang terlibat dalam negosiasi yang "sangat rumit" dengan para pemimpin Israel dan Arab.

Wapres Vance menggambarkan dirinya sebagai orang yang "berharap dengan hati-hati" untuk mencapai kesepakatan.

"Saya merasa lebih optimistis tentang posisi kita saat ini dibandingkan dengan posisi kita sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir, tetapi mari kita realistis, hal-hal ini bisa tergelincir di menit-menit terakhir," ujarnya.

Ia mengatakan rencana tersebut memiliki tiga komponen utama: Memulangkan semua sandera, mengakhiri ancaman Hamas terhadap Israel, dan meningkatkan bantuan kemanusiaan di Gaza.

"Jadi saya pikir kita hampir mencapai ketiga tujuan tersebut," tandas Wapres Vance.

Ketika para pemimpin internasional berkumpul di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York minggu ini, AS meluncurkan rencana perdamaian Timur Tengah yang berisi 21 poin untuk mengakhiri perang di Gaza yang telah berlangsung hampir dua tahun antara Israel dan Hamas.

Rencana tersebut menyerukan pemulangan semua sandera, baik yang hidup maupun yang mati, tidak ada lagi serangan Israel terhadap Qatar, dan dialog baru antara Israel dan Palestina untuk "hidup berdampingan secara damai," kata seorang pejabat Gedung Putih.

Sementara itu, seorang perwakilan Hamas mengatakan pada Hari Sabtu, kelompok tersebut belum melihat rencana Washington yang dipresentasikan di PBB.

Sedangkan PM Netanyahu, dalam wawancara di acara "The Sunday Briefing" di Fox News Channel, mengatakan amnesti bagi para pemimpin Hamas dimungkinkan berdasarkan ketentuan perjanjian.

"Detailnya harus dirumuskan. Namun dalam pernyataan sebelumnya, saya mengatakan bahwa jika para pemimpin, jika para pemimpin Hamas, misalnya, dikawal keluar dari negara ini, ya, jika mereka mengakhiri perang, bebaskan semua sandera. Kami akan membebaskan mereka," ujarnya.