Bagikan:

JAKARTA - Wakil Presiden JD Vance mengatakan keyakinannya, program nuklir Iran telah mengalami kemunduran "bertahun-tahun" akibat serangan Amerika Serikat, dan operasi tersebut berdasarkan penilaian intelijen AS, bukan Israel.

Presiden Donald Trump menyatakan AS telah menyelesaikan "serangan yang sangat sukses" terhadap tiga titik fasilitas nuklir di Iran, Sabtu 21 Juni.

Dalam unggahan di Truth Social, Presiden Trump menyatakan, semua pesawat AS telah keluar dari ruang udara Iran, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Wapres Vance mengatakan kepada acara "Meet the Press" di NBC, Ia merasa "sangat yakin bahwa kami telah menunda secara substansial pengembangan senjata nuklir (Iran)," dikutip dari The Times of Israel 23 Juni.

Dan, meskipun tidak dapat memberikan penilaian resmi, Ia memperkirakan Iran akan membutuhkan "bertahun-tahun" sebelum dapat mencapai bom.

Ketika ditanya apakah Presiden Donald Trump memberikan lampu hijau untuk operasi tersebut berdasarkan penilaian intelijen AS atau Israel atas kemampuan nuklir Iran, Wapres Vance mengatakan "intelijen kami" yang menyebabkan keputusan tersebut

"Tentu saja kami berbagi intelijen dengan banyak lembaga, Inggris, Israel, dan sebagainya, tetapi intelijen kamilah yang memotivasi kami untuk bertindak," jelasnya.

Wapres Vance menjelaskan, Negeri Paman Sam mengidentifikasi "Iran memproduksi uranium yang sangat diperkaya yang hanya sesuai dengan keinginan mereka untuk membangun senjata nuklir," dan sementara "tentu saja ada pertanyaan terbuka tentang apakah mereka akan melakukannya dalam beberapa minggu atau beberapa bulan mereka terlalu dekat dengan senjata nuklir untuk kenyamanan presiden Amerika Serikat, itulah sebabnya ia memilih tindakan ini."

Wapres Vance menekankan, meskipun AS merasa pembicaraan nuklir dengan Iran agak produktif pada Bulan Maret, pada pertengahan Mei, "Iran tampaknya menghalangi" negosiasi, yang merupakan "sebenarnya cerita tersembunyi di sini. Iran berhenti bernegosiasi dengan itikad baik, dan itulah katalisator sebenarnya" keputusan untuk menyerang.

Ketika ditanya apakah AS akan mendukung pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei oleh Israel, Wapres Vance mengklaim langkah seperti itu "terserah pada Israel" dan menegaskan kembali posisi AS adalah "kami tidak menginginkan perubahan rezim."