Bagikan:

JAKARTA - Mantan kepala intelijen Sri Lanka ditangkap terkait pemboman Minggu Paskah 2019 yang menewaskan 279 orang, termasuk 45 warga asing, kata kepolisian setempat.

Juru bicara Fredrick Wootler mengatakan, Suresh Sallay ditangkap pada Hari Rabu oleh Departemen Investigasi Kriminal.

Pemboman bunuh diri terkoordinasi tersebut menargetkan tiga hotel mewah di Kolombo, dua gereja Katolik Roma dan sebuah gereja Protestan evangelis di luar kota. Serangan tersebut dituduhkan kepada kelompok jihadis lokal.

Departemen tersebut sedang menyelidiki kemungkinan "keterkaitan atau kelalaian" oleh Sallay terkait dengan serangan tersebut, kata Wootler, dilansir dari The National (25/2).

Peristiwa pemboman itu menjadi serangan terburuk terhadap warga sipil di negara di mana setidaknya 100.000 orang telah tewas dalam perang separatis Tamil yang berakhir pada Mei 2009, setelah hampir empat dekade kekerasan.

Sallay, yang dipromosikan menjadi kepala Dinas Intelijen Negara (SIS) pada tahun 2019 setelah Gotabaya Rajapaksa menjadi presiden, dituduh terlibat dalam pengorganisasian serangan bom bunuh diri, tuduhan yang telah ia bantah.

Penangkapannya yang telah lama dinantikan terjadi sebelum peringatan tujuh tahun pemboman tersebut.

Stasiun televisi Inggris Channel 4 melaporkan pada tahun 2023, ia terkait dengan para pelaku bom bunuh diri Islamis dan telah bertemu mereka sebelum serangan itu.

Dua hari setelah pemboman, ISIS mengklaim bertanggung jawab, tetapi para penyelidik mengatakan mereka tidak memiliki bukti untuk menetapkan keterlibatan asing secara langsung.

Lebih dari 500 orang tewas dan terluka dalam pemboman tersebut, yang melumpuhkan industri pariwisata negara kepulauan yang sebelumnya menguntungkan.

Lima warga negara AS termasuk di antara mereka yang tewas, dan pada tahun 2021, otoritas Amerika mendakwa tiga warga Sri Lanka karena mendukung serangan tersebut. Ketiganya termasuk di antara 25 tersangka yang didakwa di Pengadilan Tinggi Sri Lanka.

Mahkamah Agung mendenda Presiden Maithripala Sirisena dan empat pejabat senior lebih dari 1,03 juta dolar AS dalam kasus perdata karena kegagalan mereka mencegah serangan tersebut.

Diketahui, PBB telah meminta Sri Lanka untuk mempublikasikan sebagian dari penyelidikan sebelumnya tentang pemboman yang selama ini dirahasiakan dari publik.