JAKARTA – Pengamat politik Ray Rangkuti menilai masuknya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa calon presiden 2029 menambah daftar figur individual yang berpeluang maju tanpa bertumpu pada kekuatan partai politik.
“Kian banyak peluang bagi tokoh-tokoh individual untuk dapat dicalonkan sebagai pemimpin nasional. Kehadiran Sjafrie Sjamsoeddin memperpanjang deretan nama itu, muncul karena kiprah sendiri, tanpa partai,” ujar Ray saat dihubungi awak media, Kamis 19 Februari.
Menurut Ray, fenomena tersebut bukan hal baru dalam politik Indonesia. Ia mencontohkan dalam kontestasi pilkada, banyak calon individual bermunculan dan sukses menjadi kepala daerah.
“Sebagian mereka memang tetap dicalonkan partai. Tapi, mereka membangun citra melalui akselerasi individual mereka sendiri. Seturut dengan itu, tokoh-tokoh partai makin kurang diminati,” tandasnya.
Ray juga menilai kehadiran Sjafrie berpotensi menambah pesaing bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, meski Gibran masih memiliki elektabilitas tinggi, munculnya figur-figur baru membuat peta persaingan semakin ketat.
“Sekalipun namanya masih bertengger sebagai cawapres dengan elektabilitas tertinggi, tapi kehadiran individu-individu baru menambah banyaknya calon yang layak dipertimbangkan oleh Prabowo. Dan itu, dengan sendirinya, membuat peluang Gibran terpepet,” jelasnya.
Di sisi lain, Ray melihat pencalonan Sjafrie bisa menjadi peluang sekaligus menimbulkan ketidaknyamanan bagi Presiden Prabowo Subianto. Jika dipasangkan dengan Prabowo, menurutnya, kombinasi latar belakang militer dan minimnya basis partai bisa menjadi kendala. Namun jika tidak bersama Prabowo, ruang gerak Sjafrie dinilai bisa menyempit.
“Ini bisa jadi berkah tapi sekaligus jadi pemecah Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin,” pungkas Ray.
Sementara itu, hasil survei terbaru Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029, termasuk Sjafrie Sjamsoeddin.
“Berdasarkan hasil survei terbaru kami, sejumlah wajah-wajah baru masuk dalam bursa bakal capres 2029 seperti Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,” ujar Peneliti IPI Abdan Sakura dalam konferensi pers di Semanggi, Jakarta, Senin pekan lalu.
Dalam survei tersebut, Sjafrie berada di peringkat ketujuh dengan elektabilitas 7,5 persen. Posisi teratas ditempati Prabowo Subianto dengan 22,3 persen, disusul Gibran Rakabuming Raka 12,2 persen, Ganjar Pranowo 9 persen, Anies Baswedan 8,5 persen, Pramono Anung 7,8 persen, dan Dedi Mulyadi 7,9 persen.
BACA JUGA:
Abdan menjelaskan, munculnya wajah-wajah baru tidak terlepas dari faktor kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, serta visi dan program kerja.
“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie Sjamsoeddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral,” ujarnya.
Survei IPI digelar pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden berusia 17–65 tahun di 35 provinsi di Indonesia menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.