Bagikan:

JAKARTA - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memberikan pengampunan atau pengurangan hukuman pada Hari Selasa kepada lebih dari 2.000 orang, kata pihak kehakiman, menambahkan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang terlibat dalam protes baru-baru ini yang termasuk dalam daftar tersebut.

Keputusan ini diambil menjelang peringatan Revolusi Iran yang bersama dengan peristiwa penting lainnya di Iran secara tradisional telah menyaksikan pemimpin tertinggi menandatangani pengampunan serupa selama bertahun-tahun.

"Pemimpin Revolusi Iran menyetujui permintaan kepala kehakiman untuk mengampuni atau mengurangi atau meringankan hukuman 2.108 terpidana," kata situs web Mizan Online milik kehakiman, melansir Al Arabiya dari AFP (10/2).

Namun, daftar tersebut tidak termasuk "para terdakwa dan terpidana dari kerusuhan baru-baru ini," kata Mizan, mengutip Wakil Kepala MA Iran Ali Mozaffari.

Diketahui, protes terhadap kenaikan biaya hidup meletus di Iran pada akhir Desember sebelum berubah menjadi demonstrasi anti-pemerintah di seluruh negeri yang mencapai puncaknya pada tanggal 8 dan 9 Januari.

Tehran mengakui lebih dari 3.000 orang tewas selama kerusuhan tersebut, termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang tidak bersalah, dan mengaitkan kekerasan tersebut dengan "tindakan teroris."

Pihak berwenang Iran mengatakan protes dimulai sebagai demonstrasi damai sebelum berubah menjadi "kerusuhan yang dihasut asing" yang melibatkan pembunuhan dan vandalisme.

Di sisi lain, organisasi internasional memperkirakan jumlah korban jauh lebih tinggi.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS mengatakan telah memverifikasi 6.964 kematian, sebagian besar adalah demonstran.

HRANA pekan lalu mengatakan telah menghitung setidaknya 50.235 penangkapan yang terkait dengan protes tersebut

Penangkapan tersebut menargetkan "berbagai macam warga negara, termasuk mahasiswa, penulis, dan guru," katanya.

"Dalam beberapa kasus, penangkapan disertai dengan penggeledahan rumah dan penyitaan barang-barang pribadi," jelas HRANA.

Lebih lanjut HRANA mengatakan telah menghitung lebih dari 300 pengakuan paksa terkait protes, di mana para tersangka membuat pernyataan yang disiarkan televisi setelah mengalami penyiksaan fisik atau psikologis.

Sementara, Revolusi Iran yang menandai jatuhnya Shah Mohammed Reza Pahlavi dan terbentuknya Republik Islam Iran pecah pada 7 Januari 1978 dan berakhir pada 11 Februari 1979.