JAKARTA - Dinas intelijen luar negeri Rusia mengungkapkan Prancis sedang bersiap melakukan kudeta neo-kolonial di benua Afrika.
"Pemerintahan Emmanuel Macron dengan giat mencari peluang untuk 'balas dendam politik' di Afrika," demikian laporan biro pers Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) dikutip dari Tass, Senin 2 Februari, disitat Antara.
Menurut biro pers SVR, Prancis baru-baru ini mengalami "kerugian" yang signifikan di benua Afrika karena kekuatan patriotik yang memprioritaskan kepentingan rakyat dan "menolak untuk menjadi boneka oligarki keuangan dan politik globalis Prancis" yang berkuasa di sejumlah bekas koloni Prancis di Afrika.
"Entah terinspirasi oleh operasi Amerika untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro atau membayangkan dirinya sebagai penentu nasib rakyat Afrika, Macron telah memberi wewenang kepada dinas rahasianya untuk meluncurkan rencana untuk melenyapkan 'pemimpin yang tidak diinginkan' di Afrika," sambung pernyataan tersebut.
SVR juga mencatat bahwa ada bukti yang mengungkapkan Prancis terlibat dalam upaya kudeta di Burkina Faso pada 3 Januari 2026 yang berhasil digagalkan.
"Para pemberontak ditugaskan untuk membunuh Presiden [Burkina Faso] Ibrahim Traore, salah satu pemimpin perjuangan melawan neokolonialisme. Menurut perhitungan Paris, ini tidak hanya akan membawa kekuatan pro-Prancis ke tampuk kekuasaan di Ouagadougou tetapi juga akan memberikan pukulan telak kepada semua pendukung kedaulatan dan ideologi Pan-Afrika di benua itu," tambah pernyataan.
BACA JUGA:
SVR kemudian mengklaim meski rencana kriminal tersebut gagal, tetapi ada upaya lain yang serupa bakal dilakukan Prancis.
"Fokus mereka adalah untuk mendestabilisasi situasi di "negara-negara yang tidak diinginkan" di wilayah Sahara-Sahel dengan bantuan kelompok teroris lokal dan rezim Ukraina, yang memasok para militan dengan drone dan instruktur," sambung pernyataan.
"Target utama kelompok ini adalah Mali. Serangan terhadap truk bahan bakar, upaya untuk memblokade kota-kota Mali, dan meneror warga sipil semuanya bertujuan untuk satu hal: menciptakan kondisi untuk penggulingan Presiden Assimi Goita. Paris terus mencari peluang untuk menabur kekacauan di Republik Afrika Tengah," demikian pernyataan SVR.