JAKARTA — Seorang pengendara mobil berinisial AR (51) ditemukan meninggal dunia di dalam kendaraannya saat terjebak kemacetan parah akibat banjir di Jalan Layang (Flyover) Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Kamis 22 Januari siang.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 13.00 WIB ketika mobil korban tiba-tiba berhenti di tengah jalan yang saat itu padat kendaraan. Kemacetan dipicu genangan banjir di sejumlah ruas, sehingga arus lalu lintas tersendat.
Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Grogol Petamburan AKP Alexander Tengbunan mengatakan, saksi dari bengkel mobil melihat kendaraan korban mendadak mogok di tengah kepadatan.
“Jadi tadi sekitar jam 1 siang ada saksi melihat korban mengendarai mobil terus tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Kemudian saksi memberitahu anggota Satlantas,” ujar Alex.
Petugas lalu lintas yang datang ke lokasi sempat mencoba membantu mendorong mobil. Namun, mobil dalam kondisi rem tangan aktif dan korban tidak merespons saat kaca diketuk.
Petugas kemudian membuka pintu kendaraan dan mendapati korban tertunduk di kursi pengemudi.
“Pas dicek denyut nadinya, korban ini sudah tidak berdetak,” kata Alex.
Jenazah korban yang diketahui beralamat di Penjaringan, Jakarta Utara, selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Menanggapi kejadian tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan Dinas Kesehatan menelusuri kronologi medis korban.
“Innalillahi wa innaillaihi raji’un. Terus terang saya berduka untuk itu. Saya sudah memerintahkan Dinas Kesehatan untuk mendata dan mencari tahu bagaimana proses meninggalnya,” ujar Pramono, Jumat 23 Januari.
BACA JUGA:
Ia menyebut kemacetan akibat banjir menjadi perhatian serius Pemprov DKI. Seluruh dinas terkait, mulai dari Dinas Bina Marga, Perhubungan, BPBD, hingga Dinas Kesehatan, dikerahkan untuk mempercepat penanganan genangan dan mengurangi kepadatan lalu lintas.
Sebagai langkah mitigasi, Pemprov juga mengizinkan penerapan work from home (WFH) dan school from home guna menekan mobilitas warga saat cuaca ekstrem.
“Urusan kemacetan memang menjadi perhatian. Makanya kami izinkan WFH maupun school from home untuk membantu mengatasi kondisi ini,” kata Pramono.