JAKARTA - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengungkapkan dirinya telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Donald Trump melalui panggilan telepon pada Hari Minggu, mengatakan keduanya akan melanjutkan pembahasan mengenai keamanan di Greenland dan Arktik.
"Saya berbicara dengan POTUS (Presiden Amerika Serikat) mengenai situasi keamanan di Greenland dan Arktik. Kami akan terus mengupayakan hal ini, dan saya berharap dapat bertemu dengannya di Davos akhir pekan ini," tulis Sekjen Rutte di media sosial X, seperti dikutip Senin (19/1).
Diketahui, Greenland, wilayah otonom di dalam Kerajaan Denmark, telah lama menarik perhatian AS karena lokasinya yang strategis dan sumber daya mineralnya yang melimpah, dikutip dari Anadolu.
Presiden Trump sendiri telah bertahun-tahun membicarakan gagasan untuk membeli atau mencaplok wilayah Arktik tersebut, mengungkapkan alasan keamanan dengan menyoroti China dan Rusia, seperti melansir Al Arabiya dari AFP.
Namun, keinginan Presiden Trump mendapat penolakan keras dari para pemimpin sejumlah negara di Eropa.
Pekan lalu, Sekjen Rutte mengatakan negara-negara sekutu sedang membahas "langkah selanjutnya" untuk memastikan keamanan di Arktik, dengan menyebutkan risiko Rusia dan China dapat menjadi "lebih aktif" di wilayah yang strategis ini.
"Semua sekutu sepakat tentang pentingnya Arktik dan keamanan Arktik, karena kita tahu bahwa dengan dibukanya jalur laut, ada risiko bahwa Rusia dan China akan menjadi lebih aktif. Dan seperti yang Anda ketahui, ada delapan negara Arktik," kata Rutte kepada wartawan pada konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic di Zagreb.
Sekjen Rutte mengatakan tujuh dari delapan negara Arktik adalah anggota NATO – AS, Kanada, Denmark, Islandia, Norwegia, Finlandia dan Swedia – sementara Rusia tetap menjadi satu-satunya negara Arktik di luar aliansi.
China, tambahnya, juga telah menjadi pemain yang semakin aktif di wilayah tersebut meskipun tidak memiliki kehadiran geografis.
BACA JUGA:
"Saat ini, Tiongkok hampir menjadi semacam negara Arktik, bukan secara geografis, tetapi setidaknya dari segi banyaknya aktivitas dan minat mereka di wilayah tersebut," jelas Rutte.
Akhir pekan lalu, Presiden Trump pada Hari Sabtu mengatakan Washington akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen pada barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari, meningkat menjadi 25 persen pada Bulan Juni, karena penentangan mereka terhadap kendali AS atas Greenland.
Setelah pengumuman tersebut, para pemimpin Eropa, termasuk presiden Dewan Eropa dan Komisi Uni Eropa, berjanji akan memberikan respons yang terkoordinasi.