JAKARTA - Kepala Departemen Perang (Pentagon) Amerika Serikat Pete Hegseth mengungkapkan militer negaranya mengerahkan hampir 200 personel memasuki ibu kota Venezuela, Caracas, sebagai bagian dari operasi untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Pasukan AS menangkap Presiden Maduro dan istrinya pada akhir pekan, dengan Washington mengenakan sejumlah tuduhan dan menjadi target hadiah 50 juta dolar AS.
"Hampir 200 tentara Amerika terbaik kita pergi ke pusat kota Caracas dan menangkap seorang individu yang didakwa dan dicari oleh keadilan Amerika, untuk mendukung penegakan hukum, tanpa satu pun warga Amerika yang tewas," kata Kepala Pentagon dalam pidatonya kepada para pelaut dan pekerja galangan kapal AS di Virginia, melansir Al Arabiya dari AFP (6/1).
Ini adalah pertama kalinya seorang pejabat AS memberikan angka pasti mengenai jumlah pasukan AS yang menyerbu Caracas melalui helikopter sebagai bagian dari operasi mengejutkan tersebut, yang juga melibatkan lebih dari 150 pesawat militer dalam berbagai peran, termasuk menyerang pertahanan Venezuela.
Presiden Maduro dan istrinya Cilia Flores dibawa ke New York, Amerika Serikat segera setelah penangkapan, untuk dihadapkan ke pengadilan.
BACA JUGA:
Dalam persidangan awal di pengadilan federal New York Presiden Maduro mengaku tidak bersalah atas empat dakwaaan kriminal, yakni: terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, serta serta kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.
"Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Saya orang yang baik. Saya masih presiden negara saya," kata Maduro melalui penerjemah, sebelum dipotong oleh Hakim Distrik AS Alvin Hellerstein, melansir Al Arabiya dari Reuters.
Sang istri juga menyatakan tidak bersalah. Persidangan keduanya akan kembali digelar pada 17 Maret mendatang.