Bagikan:

JAKARTA - Negara-negara Eropa harus mengembalikan aset Rusia yang diblokir jika mereka tidak ingin "dikenal sebagai pencuri Eropa" dan menerima hukuman seberat-beratnya atas kejahatan mereka, ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.

"Hanya Rusia yang berhak memutuskan apa yang akan terjadi pada aset Federasi Rusia," jelas Zakharova, melansir TASS 26 November.

"Dan mereka yang memegang uang Federasi Rusia secara ilegal harus mengembalikannya jika mereka tidak ingin dikenal sebagai pencuri Eropa dan menerima hukuman seberat-beratnya atas kejahatan mereka," tegasnya.

Komentar diplomat Rusia di Telegram tersebut menanggapi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, hak untuk mengelola aset Rusia yang dibekukan di Uni Eropa adalah milik Eropa.

Itu disampaikan Presiden Macron seiring dengan penolakan terhadap ketentuan dalam rencana perdamaian perang Rusia-Ukraina yang diusung oleh Amerika Serikat.

Rencana perdamaian 28 poin yang diusulkan oleh Amerika Serikat minggu lalu mencakup proposal untuk menggunakan aset-aset tersebut bagi upaya rekonstruksi yang dipimpin Amerika di Ukraina setelah gencatan senjata disepakati.

Usulan tersebut berisiko menggagalkan upaya Eropa untuk memobilisasi 140 miliar euro dari aset Rusia guna mendanai upaya perang di Ukraina.

"Eropa adalah satu-satunya – karena tercantum dalam rencana (AS) – yang dapat memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan aset Rusia yang dibekukan yang dipegang oleh Eropa," kata Presiden Macron di stasiun radio Prancis RTL, melansir Politico.

Ketika Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, hampir 300 miliar euro aset Moskow, meliputi rekening bank, surat berharga, real estat hingga kapal pesiar, berada di luar negeri dan dibekukan akibat sanksi Barat, dikutip dari DW.

Meskipun banyak negara memegang aset-aset ini, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Jepang, sebagian besar aset tersebut berada di negara-negara anggota Uni Eropa, dan yang terbesar berada di Belgia.

Euroclear, lembaga penyimpanan keuangan yang berbasis di Brussels, menyimpan sekitar 180 miliar euro aset Rusia yang dibekukan.

Sejak perang dimulai, Eropa telah mendiskusikan apakah dan bagaimana menggunakan aset Rusia untuk membuat Rusia membayar perang yang telah dimulainya.

Diskusi terakhir semacam itu diadakan pada bulan Oktober, ketika Belgia memveto "pinjaman reparasi" yang ingin ditawarkan Uni Eropa kepada Ukraina untuk membangun kembali negara tersebut.

Belgia khawatir akan masalah hukum dan bahwa Rusia pada akhirnya akan meminta pengembalian uangnya dari negara tersebut. Itulah sebabnya Belgia menolak untuk bergabung dan meminta agar tanggung jawab tersebut ditanggung bersama oleh negara lain.

Uni Eropa berharap dapat meredakan kekhawatiran Belgia dan memenangkannya pada pertemuan puncak mendatang blok tersebut di pertengahan Desember mendatang.

Juru bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov telah menegaskan sebelumnya, Moskow tidak akan membiarkan upaya penyitaan aset Rusia tanpa respons.