JAKARTA - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan pada Hari Selasa, rencana perdamaian yang diamandemen untuk Ukraina harus mencerminkan "semangat dan isi" dari kesepahaman yang dicapai antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada KTT Alaska.
Berbicara dalam konferensi pers di Moskow, Menlu Lavrov mengatakan Rusia menyambut baik versi awal rencana perdamaian AS untuk Ukraina dan sedang menunggu versi sementara yang diamandemen, setelah Washington berkoordinasi dengan Ukraina dan Eropa.
Jika versi amandemen tersebut tidak mencerminkan apa yang dibahas Presiden Putin dan Presiden Trump ketika mereka bertemu di Alaska pada Bulan Agustus, Menlu Lavrov mengatakan, Rusia - yang perwakilannya dilaporkan sedang bersiap untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut dengan AS di Abu Dhabi pada Hari Selasa nanti - akan mengambil pandangan yang sangat berbeda terhadap inisiatif tersebut.
"Penilaian kami tetap valid dalam arti, ketentuan-ketentuan utama dari rencana (awal) Trump didasarkan pada kesepahaman yang dicapai di Anchorage pada KTT Rusia-Amerika pada bulan Agustus tahun ini. Dan prinsip-prinsip ini secara umum tercermin dalam rencana tersebut, yang kami sambut baik," jelas Menlu Lavrov, melansir Reuters 25 November.
Rencana awal tersebut telah secara permanen mencoret keanggotaan NATO bagi Ukraina, membatasi jumlah tentaranya hingga 600.000, mengusulkan penyerahan sisa Donbas kepada Rusia - meskipun sebagai zona demiliterisasi - dan mewajibkan Kyiv menyelenggarakan pemilu dalam 100 hari.
BACA JUGA:
Semua klausul tersebut dilaporkan telah diamandemen atau dikesampingkan untuk sementara waktu.
Menlu Lavrov mengatakan, Moskow tidak terburu-buru, tetapi berharap Washington akan membagikan teks sementara terbaru kepada Rusia ketika sudah siap.
"Jika semangat dan isi Perjanjian Anchorage dihapuskan dalam hal kesepahaman utama yang telah kita buat, tentu saja, situasinya akan sangat berbeda (bagi Rusia)," Menlu Lavrov memperingatkan.