JAKARTA - Otoritas penerbangan Venezuela pada Hari Senin memberi tahu maskapai internasional, mereka harus melanjutkan penerbangan ke negara itu dalam waktu 48 jam atau berisiko kehilangan izin terbang ke sana, kata Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA).
Sejumlah maskapai internasional membatalkan penerbangan mereka yang berangkat dari Venezuela dalam beberapa hari terakhir, setelah Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) memperingatkan maskapai-maskapai besar tentang "situasi yang berpotensi berbahaya" ketika terbang di atas negara itu.
IATA, yang mewakili sekitar 350 maskapai penerbangan, mengkritik langkah otoritas Venezuela, memperingatkan keputusan tersebut "akan semakin mengurangi konektivitas ke negara itu, yang sudah menjadi salah satu yang paling sedikit terhubung di kawasan itu," seperti melansir Al Arabiya dari Reuters 25 November.
Kementerian Informasi Venezuela tidak segera menanggapi permintaan komentar. Reuters tidak dapat segera menghubungi lembaga penerbangan nasional untuk memberikan komentar.
Sebelumnya pada Hari Senin, maskapai Spanyol Air Europa mengatakan akan menangguhkan lima penerbangan mingguannya antara Madrid dan Caracas "sampai kondisi memungkinkan" untuk dilanjutkan.
Sementara Maskapai Plus Ultra juga mengumumkan penangguhan penerbangan pada rute yang sama, lapor media Spanyol.
Selama akhir pekan, maskapai penerbangan IAG asal Spanyol, Iberia, juga menangguhkan penerbangannya ke Venezuela, bergabung dengan maskapai lain seperti Gol dari Brasil, Avianca dari Kolombia dan TAP Air Portugal.
Seorang juru bicara Iberia mengatakan pada Hari Senin, penangguhan tersebut akan berlangsung setidaknya hingga 1 Desember, sementara Gol mengatakan penerbangannya pada Hari Selasa dan Rabu ke Caracas dibatalkan. Sedangkan Turkish Airlines membatalkan penerbangan hingga Jumat.
BACA JUGA:
Jumat lalu, FAA AS memperingatkan tentang "situasi keamanan yang memburuk dan meningkatnya aktivitas militer di dalam atau di sekitar Venezuela", mengatakan ancaman tersebut dapat menimbulkan risiko bagi pesawat di semua ketinggian.
Telah terjadi penumpukan militer besar-besaran Amerika di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir, termasuk kapal induk terbesar Angkatan Laut AS, setidaknya delapan kapal perang lainnya hingga jet tempur F-35.