Bagikan:

JAKARTA - Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan pada Hari Selasa, Ukraina siap untuk memajukan kerangka kerja yang didukung Amerika Serikat untuk mengakhiri perang dengan Rusia dan membahas poin-poin yang disengketakan dengan Presiden Donald Trump dalam pembicaraan yang menurutnya harus melibatkan sekutu Eropa.

Dalam pidatonya di hadapan apa yang dikenal sebagai koalisi sekutu yang bersedia, yang salinannya telah dilihat oleh Reuters, Presiden Zelensky mendesak para pemimpin Eropa untuk menyusun kerangka kerja untuk mengerahkan "pasukan penenang" ke Ukraina dan untuk terus mendukung Kyiv selama Moskow tidak menunjukkan keinginan untuk mengakhiri invasinya.

Para pejabat AS dan Ukraina telah berusaha untuk mempersempit kesenjangan di antara mereka terkait rencana Trump untuk mengakhiri konflik paling mematikan dan paling menghancurkan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua, dengan Ukraina khawatir akan dipaksa untuk menerima kesepakatan yang sebagian besar didasarkan pada persyaratan Rusia, termasuk konsesi teritorial.

"Kami sangat yakin keputusan keamanan terkait Ukraina harus mencakup Ukraina, keputusan keamanan terkait Eropa harus mencakup Eropa. Karena ketika sesuatu diputuskan tanpa sepengetahuan suatu negara atau rakyatnya, selalu ada risiko tinggi hal itu tidak akan berhasil," kata Presiden Zelensky, menurut teks pidatonya, melansir Al Arabiya dari Reuters 26 November.

"Kerangka kerja itu sudah tersedia, dan kami siap untuk bergerak maju bersama, dengan AS, dengan keterlibatan pribadi Presiden Trump," tambahnya.

Secara terpisah, Presiden Trump mengatakan dalam acara di Gedung Putih, Ia berpikir kesepakatan terkait Ukraina semakin dekat tetapi tidak memberikan detail lain, hanya mengatakan: "Kita akan mencapainya."

Presiden Zelensky dapat mengunjungi AS dalam beberapa hari ke depan untuk menyelesaikan kesepakatan dengan Trump, kata kepala keamanan nasional Kyiv Rustem Umerov sebelumnya pada hari Selasa, meskipun belum ada konfirmasi langsung mengenai kunjungan tersebut dari pihak AS.

Pesan Kyiv mengisyaratkan dorongan diplomatik yang intens oleh Pemerintahan Trump dapat membuahkan hasil, tetapi optimisme apa pun dapat berumur pendek, karena Rusia menekankan tidak akan membiarkan kesepakatan apa pun menyimpang terlalu jauh dari tujuannya sendiri.

Sebelumnya, para negosiator AS dan Ukraina mengadakan pembicaraan mengenai rencana perdamaian terbaru yang didukung AS di Jenewa pada hari Minggu.

Menteri Angkatan Darat AS, Dan Driscoll, kemudian bertemu pada hari Senin dan Selasa dengan para pejabat Rusia di Abu Dhabi, ujar juru bicara Driscoll.

Seorang pejabat Ukraina mengatakan Kyiv "mendukung esensi kerangka kerja tersebut, dan beberapa isu paling sensitif tetap menjadi poin pembahasan antar presiden."

Terpisah, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan di X, selama seminggu terakhir, AS telah membuat "kemajuan luar biasa menuju kesepakatan damai dengan mengajak Ukraina dan Rusia berunding."

"Ada beberapa detail yang rumit, tetapi bukan tidak mungkin, yang harus diselesaikan dan akan membutuhkan pembicaraan lebih lanjut antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat," tambahnya.

Diketahui, rencana perdamaian 28 poin yang muncul minggu lalu mengejutkan banyak pihak di Pemerintahan AS, Kyiv dan Eropa, serta memicu kekhawatiran baru Pemerintahan Presiden Trump mungkin bersedia mendorong Ukraina untuk menandatangani kesepakatan damai yang sangat condong ke Moskow.

Rencana tersebut mengharuskan Kyiv untuk menyerahkan wilayah di luar hampir 20 persen wilayah Ukraina yang telah direbut Rusia sejak invasi besar-besaran pada Februari 2022, serta menerima pembatasan militer dan melarangnya bergabung dengan NATO. Ini merupakan syarat yang telah lama ditolak Kyiv karena dianggap sama saja dengan menyerah.

Pada Hari Senin, Ia mengatakan rencana perdamaian terbaru memasukkan poin-poin yang "tepat" setelah perundingan di Jenewa selama akhir pekan.

"Isu-isu sensitif, poin-poin yang paling sensitif, akan saya bahas dengan Presiden Trump," kata Presiden Zelensky dalam pidato video malam harinya.

Presiden Zelensky mengatakan proses penyusunan dokumen final akan sulit. Serangan gencar Rusia terhadap Ukraina telah membuat banyak orang skeptis tentang bagaimana perdamaian dapat segera tercapai.

Sementara, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan rencana perdamaian yang diamandemen harus mencerminkan "semangat dan isi" dari kesepahaman yang dicapai antara Presiden Putin dan Presiden Trump pada pertemuan puncak di Alaska.

"Jika semangat dan isi Anchorage terhapus dalam hal kesepahaman utama yang telah kita buat, tentu saja, situasinya akan sangat berbeda (bagi Rusia)," Menlu Lavrov memperingatkan.