Bagikan:

JAKARTA - Penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk pinjaman reparasi bagi Ukraina berisiko meningkatkan biaya utang Eropa, Euroclear memperingatkan dalam surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Uni Eropa Antonio Costa yang dilihat oleh Financial Times (FT).

Menurut lembaga penyimpanan sekuritas sentral yang berbasis di Brussels tersebut, mekanisme semacam itu akan dianggap sebagai "penyitaan" di luar Uni Eropa dan menakuti investor, tulis surat kabar tersebut, seperti dikutip dari TASS 27 November.

Dikatakan, rencana pinjaman tersebut akan merusak iklim investasi di Eropa "karena investor, khususnya dana kekayaan negara dan bank sentral, akan menganggap inisiatif ini setara dengan penyitaan cadangan bank sentral, yang melemahkan supremasi hukum," ujar CEO Euroclear, Valerie Urbain, dalam surat tersebut.

Selain itu, tindakan semacam itu akan menyebabkan "pembayaran kompensasi oleh negara-negara anggota (Uni Eropa) kepada Euroclear," demikian yang dikutip oleh surat kabar Inggris tersebut.

Belgia, tempat aset Rusia senilai 200 miliar euro dibekukan di Euroclear, memblokir usulan Komisi Eropa untuk mengambil alih aset tersebut dengan kedok pinjaman reparasi kepada Kyiv pada KTT Uni Eropa 23 Oktober.

Pemerintah Belgia menuntut jaminan yang mengikat secara hukum dari semua negara Uni Eropa, mereka akan sepenuhnya menanggung beban keuangan dan hukum yang akan dihadapi Brussels sebagai akibat dari tindakan pembalasan Rusia.

Duta Besar Rusia untuk Belgia, Denis Gonchar, sebelumnya mengatakan kepada TASS, terlepas dari skema yang digunakan untuk mengambil alih aset tersebut, hal itu akan dianggap sebagai pencurian.

Ia memperingatkan, tanggapan Rusia "akan segera menyusul" dan memaksa Barat "untuk menanggung kerugiannya."

Sementara, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pekan ini memperingatkan, negara-negara Eropa harus mengembalikan aset Rusia yang diblokir jika mereka tidak ingin "dikenal sebagai pencuri Eropa" dan menerima hukuman seberat-beratnya atas kejahatan mereka.

"Hanya Rusia yang berhak memutuskan apa yang akan terjadi pada aset Federasi Rusia," tegasnya.

"Dan mereka yang memegang uang Federasi Rusia secara ilegal harus mengembalikannya jika mereka tidak ingin dikenal sebagai pencuri Eropa dan menerima hukuman seberat-beratnya atas kejahatan mereka," Zakharova menekankan.

Komentar diplomat Rusia di Telegram tersebut menanggapi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, hak untuk mengelola aset Rusia yang dibekukan di Uni Eropa adalah milik Eropa.

Itu disampaikan Presiden Macron seiring dengan penolakan terhadap ketentuan dalam rencana perdamaian perang Rusia-Ukraina yang diusung oleh Amerika Serikat.

Rencana perdamaian 28 poin yang diusulkan oleh Amerika Serikat minggu lalu mencakup proposal untuk menggunakan aset-aset tersebut bagi upaya rekonstruksi yang dipimpin Amerika di Ukraina setelah gencatan senjata disepakati.

Usulan tersebut berisiko menggagalkan upaya Eropa untuk memobilisasi 140 miliar euro dari aset Rusia guna mendanai upaya perang di Ukraina.

Diketahui, ketika Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, hampir 300 miliar euro aset Moskow, meliputi rekening bank, surat berharga, real estat hingga kapal pesiar, berada di luar negeri dan dibekukan akibat sanksi Barat, dikutip dari DW.

Meskipun banyak negara memegang aset-aset ini, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Jepang, sebagian besar aset tersebut berada di negara-negara anggota Uni Eropa, dan yang terbesar berada di Belgia.

Euroclear, lembaga penyimpanan keuangan yang berbasis di Brussels, menyimpan sekitar 180 miliar euro aset Rusia yang dibekukan.