Bagikan:

JAKARTA - Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengonfirmasi, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina tetap memprihatinkan meskipun ada gencatan senjata.

UNRWA juga mencatat, Israel mencegah masuknya staf internasionalnya dan membatasi pengiriman bantuan, yang mengakibatkan penumpukan sekitar 6.000 truk makanan di titik-titik penyeberangan.

Dalam sebuah pernyataan UNRWA menegaskan lebih dari 90 penduduk Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan, dengan banyak yang hanya menerima satu porsi makanan setiap 24 jam, dikutip dari WAFA 2 November.

Rata-rata 170 truk memasuki Jalur Gaza setiap hari, jumlah yang jauh di bawah jumlah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, lanjutnya.

UNRWA saat ini mengelola 100 tempat penampungan yang menampung lebih dari 80.000 pengungsi. UNRWA juga terus menyediakan layanan pembelajaran jarak jauh kepada sekitar 300.000 siswa dan pendidikan tatap muka kepada 50.000 siswa dalam kondisi yang sulit dan penuh tekanan.

Lebih jauh badan tersebut menyatakan sekitar 44.000 anak di Jalur Gaza menerima pendidikan mereka dalam kondisi sulit di 330 ruang belajar sementara yang terletak di 59 tempat penampungan.

Badan tersebut juga menekankan, banyak anak terpaksa duduk di tanah yang dingin karena kurangnya meja dan kursi, yang membuat belajar menjadi lebih sulit dan memengaruhi rasa aman dan stabilitas mereka.

Situasi ini terjadi di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza setelah perang genosida yang dilancarkan oleh pendudukan Israel pada 7 Oktober 2013, yang dampak bencananya masih berlanjut hingga saat ini.

Pengeboman Israel dan kerusakan yang meluas menyebabkan hilangnya sekolah dan fasilitas pendidikan, mendorong UNRWA untuk mengubah tempat penampungan darurat menjadi ruang belajar sementara untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak yang mendesak.

Badan tersebut mencatat, menyediakan kebutuhan dasar seperti meja dan kursi tidak hanya memberikan manfaat materi tetapi juga memberi anak-anak rasa stabilitas dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik setelah perang.