JAKARTA - Bissan Younis merasa muram, berdiri di luar tenda tempat tinggal keluarganya.
Sekelilingnya puing-puing sisa bangunan hancur dan tanah kosong yang menjadi pemandangan umum Jalur Gaza pasca-serangan militer Israel.
Tendanya merupakan bagian dari kamp pengungsi warga Pelestina, sekaligus sekolah darurat yang tidak memiliki ruang lagi bagi Kareem, putranya yang remaja.
"Sebagian besar sekolah hancur," katanya kepada AP, Jumat 17 November.
"Setiap sekolah yang saya kunjungi mengatakan tidak ada ruang," sambungnya.
Lebih dari 600.000 anak Palestina di Gaza terengut haknya untuk mendapat pendidikan selama dua tahun terakhir.
Alih-alih belajar dan bersosialisasi dengan anak sepantaran, mereka telah berulang kali mengungsi, melarikan diri dari serangan udara dan penembakan, serta seringkali terpaksa menghabiskan hari-hari dengan mencari air bersih hingga makanan untuk keluarga mereka.
Dengan adanya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai bulan lalu, organisasi kemanusiaan yang dahulu dikekang militer Israel kini mulai terjun ke Gaza, bekerja keras untuk membuka kembali puluhan sekolah darurat.
John Crickx, juru bicara badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, mengatakan sangat penting bagi anak-anak di Gaza untuk kembali ke sekolah sesegera mungkin, bukan hanya karena pendidikan tetapi juga untuk kesehatan mental mereka.
“Dalam beberapa minggu mendatang, jika kita tidak menyediakan pendidikan, mungkin akan ada “konsekuensi yangmengerikan bagi seluruh generasi [di Gaza]," ujarnya.
UNICEF memperkirakan lebih dari 630.000 anak Palestina tidak bersekolah selama Israel mengincasi Gaza. Menurut Crickx, hanya sekitar 100.000 anak yang baru bisa kembali bersekolah saat ini.
Terpisah, UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, juga mulai menyediakan pendidikan untuk sekitar 40.000 siswa melalui guru-guru freelance mereka.
Namun, sebagian besar sekolah yang dikelola UNRWA, yang melayani separuh anak-anak Gaza sebelum serangan Israel, kini telah berubah menjadi tempat penampungan bagi para pengungsi.
Kendala Utama
Kurangnya ruang untuk belajar mengajar anak-anak disebabkan over kapasitas sekolah-sekolah darurat di Gaza. Itu karena puluhan bangunan sekolah mengalami rusak parah atau hancur total.
Banyak juga runtuhan bangunan sekolah dimanfaatkan untuk tempat berlindung bagi warga Palestina yang telah berulang kali mengungsi selama pemboman hebat oleh tentara Israel di Gaza.
“Pada dasarnya, ini adalah tenda-tenda di antara tenda-tenda pengungsi, atau beberapa bangunan prefabrikasi atau tempat berlindung,” kata Crickx.
“Ini sangat ... pembelajaran paling dasar,” sambungnya.
Di sebuah sekolah, yang berisi banyak tenda berlogo UNICEF, dan didirikan di sebidang tanah di tengah bangunan-bangunan yang hancur akibat bom di Kota Khan Younis di selatan — anak-anak berkerumun rapat di satu ruang kelas, dengan penuh semangat mendengarkan guru mereka.
Crickx mengaku sulit menemukan lokasi baru untuk mendirikan tenda. Tantangan lainnya adalah mengirimkan pasokan ke Gaza, termasuk beton, untuk memperbaiki sekolah yang rusak. Bahkan kebutuhan seperti pesil, penghapus, dan perlengkapan dasar lainnya.
Sejak Israel melakukan invasi ke Gaza pada awal Oktober 2023, barang-barang tersebut tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh Israel.
"Israel, yang mengendalikan arus barang ke wilayah tersebut, menganggapnya "bukan kebutuhan kritis, tidak menyelamatkan nyawa," kata Crickx.
COGAT, badan militer Israel yang mengambil alih arus bantuan kemanusiaan dan kebutuhan penting bagi penduduk Gaza dari banyaknya organisasi kemanusiaan internasional yang ingin membantu warga Palestina, hingga saat ini belum memberikan komentar langsung tentang masih sulitnya izin masuk perlengkapan sekolah ke Gaza.
Pengambilalihan beban yang biasanya ditanggung banyaknya organisasi kemanusiaan internasional, seperti kesehatan dan trauma psikologis pasca-perang, juga tidak menjadi tindakan nyata COGAT.
“Tingkat trauma di antara masyarakat Gaza, termasuk anak-anak, sangat "Mengerikan," kata direktur komunikasi UNRWA, Juliette Touma.
Dalam tahap awal kesepakatan gencatan senjata, Badan-badan PBB mengatakan mereka masih kesulitan menaksir kerusakan dan menghitung biaya untuk merekonstruksi Gaza. Para ahli PBB mengatakan, prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun dan menelan biaya sekitar 70 miliar dolar AS.
Sekolah Jadi Tempat Penampungan
Para pengungsi yang terdiri dari banyak keluarga hingga saat ini masih tinggal di reruntuhan bangunan sekolah yang rusak di Gaza. Touma dari UNRWA mengatakan, sekitar 75.000 orang masih berlindung di sekolah-sekolah UNRWA.
Salah satu pengungsi, Tahreer Al-Oweini, mengatakan merasa bersalah memakai ruang dari reruntuhan sekolahan untuk tempat tinggal sementara. Namun, ia mengaku tidak punya pilihan lain.
“Saya tinggal di ruang kelas yang seharusnya digunakan untuk belajar, dengan seorang guru, siswa, dan papan tulis,” kata Al-Oweini di sekolah yang dinding dan langit-langitnya rusak ditutupi terpal.
Al-Oweini mengatakan, ia juga mengaku kesulitan mendapatkan tempat untuk empat anaknya, tiga putri dan satu putra, yang tingkat pendidikan terakhirnya sekolah dasar dan menengah pertama.
Ia bahkan memberi tahu seorang kepala sekolah darurat di Gaza bahwa akan mencari kursi dan meja untuk putrinya, tetapi tetap ditolak lantaran penuhnya ruang belajar mengajar.
“Anak-anak lupa semua yang telah mereka pelajari,” katanya.
“Kehidupan mereka selama dua tahun terakhir dihabiskan untuk mendapatkan air, mengejar kendaraan bantuan, perang, Hamas, penembakan, dan kehancuran,” sambungnya.
“Mereka hidup dalam ketakutan atau kengerian,” tambah Al-Oweini.
Bahkan selama pertempuran sengit saat Israel membombardir Gaza, sejumlah upaya untuk mencegah anak-anak tertinggal pendidikan di sekolah darurat di kamp-kamp pengungsian masih ada.
Namun, kegiatan belajar mengajar bersifat sporadis. Beberapa keluarga ada yang tetap menjaga anak-anak mereka tetap dekat dan tidak mau mengambil risiko membiarkan mereka bersekolah, karena khawatir akan keselamatan mereka.
Ini adalah perlombaan melawan waktu dan Touma dari UNRWA memperingatkan tentang "generasi yang hilang" — semakin lama anak-anak tidak bersekolah, semakin sulit bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan dengan teman sebayanya di tempat lain.
Touma khawatir jika anak-anak kehilangan pendidikan, semakin besar kemungkinan mereka akan menjadi "mangsa eksploitasi, termasuk pernikahan dini, pekerja anak, dan perekrutan ke dalam kelompok bersenjata."
Al-Oweini menambahkan, niatnya masih sama seperti keluarga lain di Gaza, yang sangat ingin anak-anak kembali bersekolah.
"Saya ingin anak-anak saya seperti ayah mereka yang lulus kuliah," ujarnya, seraya menambahkan bahwa putri-putrinya ingin menjadi dokter atau insinyur.
"Mereka punya ambisi. Tapi kalau mereka tidak sekolah, mereka tidak akan punya masa depan," sambung Al-Oweini.