Bagikan:

JAKARTA - Amerika Serikat akan mempertimbangkan "fleksibilitas" bagi pasukannya yang ditempatkan di Korea Selatan untuk beroperasi melawan ancaman regional, tetapi inti aliansi dengan Seoul akan tetap berfokus pada pencegahan Korea Utara, ujar Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Hari Selasa.

Ia berbicara bersama mitranya dari Korea Selatan dalam kunjungan ke Korea Selatan yang sebelumnya mencakup kunjungan ke Zona Demiliterisasi (DMZ) di perbatasan dengan Korea Utara.

Ketika ditanya apakah 28.500 pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan dapat digunakan dalam konflik apa pun di luar semenanjung, termasuk dengan Tiongkok, Hegseth mengatakan dalam pengarahan, melindungi dari Korea Utara yang bersenjata nuklir adalah tujuan aliansi tersebut.

"Tetapi tidak diragukan lagi bahwa fleksibilitas untuk kontingensi regional adalah sesuatu yang akan kami pertimbangkan," ujarnya, melansir Reuters 4 November.

Menhan Hegseth mengatakan kedua pihak masih menyusun komunike bersama yang diharapkan akan membahas pembicaraan tentang biaya pertahanan dan isu-isu lainnya, seraya menambahkan mereka telah membahas peningkatan investasi militer Korea Selatan.

Kedua sekutu juga sepakat agar Korea Selatan memelihara dan memperbaiki kapal-kapal AS, yang memungkinkan mereka untuk tetap berada di wilayah tersebut dan siap jika diperlukan, ujarnya.

menhan as saat mengunjungi dmz
Menhan AS Pete Hegseth saat mengunjungi zona demiliterisasi (DMZ) Korea Selatan - Korea Utara bersama Menhan Ahn Gyu-back. (Twitter/@SecWar)

Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back mendampingi Hegseth ke DMZ pada Hari Senin dan mengamati demonstrasi militer gabungan kedua negara.

Para pejabat Negeri Paman Sam telah mengisyaratkan rencana untuk membuat pasukan AS lebih fleksibel, agar berpotensi beroperasi di luar Semenanjung Korea sebagai respons terhadap berbagai ancaman yang lebih luas, seperti mempertahankan Taiwan dan mengendalikan jangkauan militer Tiongkok yang semakin luas.

Korea Selatan menolak gagasan pengalihan peran pasukan AS, tetapi telah berupaya meningkatkan kemampuan pertahanannya dalam 20 tahun terakhir, dengan tujuan agar dapat mengambil alih komando gabungan pasukan AS-Korea Selatan di masa perang. Negeri Ginseng diketahui memiliki 450.000 tentara.

Terkait kapal selam bertenaga nuklir, keputusan Presiden AS Donald Trump mendukung rencana tersebut didorong oleh keinginannya untuk memiliki sekutu yang kuat, kata Menhan Hegseth.

"Dia ingin sekutu kita memiliki kemampuan terbaik," kata Menhan AS.

"Dan karena Korea telah menjadi sekutu teladan, dia terbuka terhadap peluang seperti itu, yang memastikan mereka memiliki kemampuan terbaik dalam pertahanan mereka sendiri dan bersama kita sebagai sekutu," tandasnya.

Kendati demikian, Menhan Hegseth mengatakan tidak dapat mengomentari detail persis apa yang disetujui Presiden Trump.

Para pejabat Korea Selatan mengatakan mereka dapat meluncurkan kapal selam bertenaga nuklir pada pertengahan 2030-an jika dipasok bahan bakar dari Amerika Serikat.

Ketika ditanya tentang kekhawatiran Korea Selatan dapat mengembangkan bom nuklirnya sendiri, Menhan Ahn mencatat Korea Selatan adalah penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

"Oleh karena itu, tidak akan ada pengembangan senjata nuklir di Republik Korea," katanya.