Bagikan:

JAKARTA - Operasi pasukan pertahanan Australia untuk melindungi rute perdagangan lautnya, termasuk melalui Laut China Selatan, menjadi semakin berisiko karena Beijing melakukan "peningkatan kekuatan militer terbesar di dunia saat ini", kata Menteri Pertahanan Richard Marles pada Hari Selasa.

Jalur laut terbuka, termasuk rute perdagangan yang melintasi Laut China Selatan dan Laut China Timur, merupakan inti dari kepentingan nasional Australia, kata Menhan Marles dalam pidato pembukaan konferensi angkatan laut yang dihadiri perwakilan sejumlah negara di Sydney.

"Pekerjaan itu menantang dan sejujurnya semakin berisiko. Peningkatan kekuatan militer terbesar di dunia saat ini adalah Tiongkok," ujarnya pada konferensi Indo Pacifik 2025, melansir Reuters 4 November.

"Bahwa hal itu terjadi tanpa jaminan strategis berarti bahwa Australia dan banyak negara lainnya dituntut untuk merespons," tandasnya.

Indo Pacifik 2025 dihadiri puluhan kepala angkatan laut dan penjaga pantai dari berbagai negara, termasuk dari Amerika Serikat, Jepang, Filipina, Singapura dan Kepulauan Pasifik.

Konferensi ini diselenggarakan di tengah persiapan Australia untuk membangun armada kapal selam bertenaga nuklir bersama AS dan Inggris melalui kemitraan AUKUS.

Lebih jauh Menhan Marles mengatakan, Australia meningkatkan anggaran militernya untuk membangun "angkatan laut yang lebih mumpuni, mematikan, dan berdaya jelajah jauh".

Ini termasuk mengakuisisi fregat dari Jepang, mengembangkan pesawat nirawak bawah laut dengan perusahaan AS, Anduril, hingga memperluas galangan kapal angkatan lautnya yang menghadap Samudra Hindia.

Australia menyampaikan kekhawatirannya kepada Beijing bulan lalu, setelah sebuah jet tempur Tiongkok menjatuhkan suar di dekat pesawat patroli maritim Australia yang sedang melakukan pengawasan di Laut China Selatan.

Insiden ini merupakan yang terbaru dari serangkaian insiden serupa yang disebut Australia sebagai "tidak aman dan tidak profesional".