JAKARTA - Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mencatat peristiwa roboh dan longsor tejadi pada delapan tanggul di Jakarta saat hujan deras yang melanda Jakarta pada hampir setiap hari sejak Kamis, 30 Oktober hingga saat ini.
Lebih jelasnya, sebanyak 5 tanggul roboh dan 3 tanggul longsor yang semuanya berada di Jakarta Selatan. Sekretaris Dinas SDA DKI Jakarta Hendri menyebut, peristiwa ini disebabkan oleh tingginya debit air di beberapa aliran sungai dan saluran penghubung di kawasan tersebut.
Saat ini, Suku Dinas SDA Jakarta Selatan telah melakukan penanganan darurat dengan membangun tanggul sementara menggunakan karung berisi pasir untuk menahan limpasan air di lokasi-lokasi terdampak.
“Kami telah menurunkan tim ke seluruh titik kerusakan untuk melakukan penanganan darurat. Saat ini kami fokus mencegah limpasan air agar tidak meluas ke pemukiman warga," tutur Hendri dalam keterangannya, Minggu, 2 November.
Berikut lokasi tanggul yang roboh:
1. Tanggul di Kemang Village (Lippo Mall Kemang) dari aliran Kali Krukut, sepanjang 13,5 meter.
2. Tanggul Jatipadang (Tanggul Baswedan), Pasar Minggu dari aliran PHB Pulo, sisi Sabili sepanjang 25 meter dan sisi lahan kosong 25 meter (total 40 meter).
3. Tanggul di Kali Krukut segmen Plaza Bisnis Kemang, sepanjang 30 meter.
4. Tanggul di Jalan Kemang Utara IX, Mampang Prapatan dari aliran Kali Mampang, sepanjang 6 meter.
5. Tanggul di Jalan Taman Kemang Bangka (sebelah Wisma Anugraha) dari aliran Kali Krukut, sepanjang 3 meter.
Sementara, tanggul longsor terletak di:
1. Jalan Kemuning, Pejaten Timur, Pasar Minggu dari aliran Kali Ciliwung, sepanjang 6 meter.
2. Jalan Gunuk Raya, Pejaten Timur, Pasar Minggu dari aliran Kali Ciliwung, sepanjang 14 meter.
3. Jalan Adityawarman, Selong, Kebayoran Baru dari aliran PHB Adityawarman, sepanjang 25 meter.
"Kerusakan tanggul disebabkan oleh tekanan debit air tinggi di Kali Krukut, Kali Mampang, dan PHB Pulo, sedangkan longsor terjadi akibat pengikisan dinding tanggul oleh curah hujan yang ekstrem," ucap Hendri.
BACA JUGA:
Hendri melanjutkan, pihaknya juga memasang crucuk kayu dolken dan karung pasir sebagai langkah sementara untuk menahan limpasan air ke jalan dan permukman warga.
Sementara, pada Jalan Adityawarman, akan dilakukan pembangunan turap permanen guna memperkuat struktur tebing sungai.
"Perbaikan fisik permanen diperkirakan memakan waktu antara dua hingga tiga bulan, menyesuaikan kondisi cuaca dan ketinggian muka air di lapangan," ucap Hendri.
Hendri mengaku Dinas SDA masih menghitung estimasi biaya perbaikan dan melakukan pengecekan tanggul di titik-titik krusial lainnya guna mencegah kerusakan lanjutan dan potensi banjir.
"Kami berharap proses perbaikan tanggul ini berjalan maksimal agar risiko banjir dapat diminimalisir dan keamanan warga tetap terjaga. Pemerintah akan terus berkoordinasi lintas instansi untuk mempercepat penanganan di lapangan," pungkas Hendri.