Bagikan:

JAKARTA - Uni Eropa (UE) mendesak semua pihak menahan diri usai demo berdarah memprotes Paul Biya kembali menjadi Presiden Kamerun untuk periode 8.

"Uni Eropa mendesak semua pihak untuk tetap menahan diri dan menghindari tindakan apa pun yang dapat memperburuk ketegangan," kata juru bicara urusan luar negeri UE, Anouar El Anouni, Selasa 28 Oktober, dikutip dari AFP.

Setidaknya empat orang tewas sejak demonstran turun ke jalan di negara Afrika tersebut pada Minggu pekan kemarin. Bentrokan terjadi antara pendemo pendukung oposisi dengan pasukan keamanan di ibu kota Douala.

Para demonstran itu memprotes Paul ditetapkan kembali jadi Presiden Kamerun. Jabatan yang diemban pria berusia 92 tahun itu sejak tahun 1960.

Demo kembali bergulir pada Senin pekan ini dengan lebih banyak massa meski kepolisian setempat melakukan pengetatan keamanan hingga pembubaran demonstran.

Kekerasan terus terjadi setelah pemilihan presiden Kamerun menimbulkan kekhawatiran akan potensi meningkatkan kerusuhan di bekas koloni Prancis di Afrika Tengah tersebut.

El Anouni mengatakan UE menyesalkan adanya "kematian dari sejumlah warga sipil akibat senjata api".

"Uni Eropa juga menyerukan pembebasan semua orang yang ditahan secara sewenang-wenang sejak pemilihan presiden," tambahnya.

Paul Biya diketahui menjadi presiden ke-2 Kamerun sejak Kamerun merdeka dari Prancis pada 1960. Ia dianggap telah memerintah dengan tangan besi, menindas semua oposisi politik dan bersenjata, dan mempertahankan kekuasaan di tengah pergolakan sosial, kesenjangan ekonomi, dan kekerasan separatis.