Bagikan:

JAKARTA - Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta menggelar pelatihan bagi pendamping bank sampah dari seluruh kelurahan di ibu kota. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat target satu RW satu bank sampah aktif yang kini menjadi fokus pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Jakarta.

Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan para pendamping akan bekerja intensif selama dua bulan untuk membentuk sekaligus mengaktifkan kembali bank-bank sampah di wilayahnya masing-masing.

Mereka diharapkan mampu menjadi penggerak utama dalam mendorong partisipasi warga untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.

Melalui pemberdayaan warga di tingkat RW, Asep menargetkan penurunan signifikan volume sampah rumah tangga yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

"Jakarta memiliki potensi besar menjadi kota percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Indonesia. Jika seluruh RW memiliki bank sampah aktif dan warga konsisten memilah sampah dari rumah, maka kita tidak hanya menjaga kebersihan kota, tetapi juga membangun Jakarta yang berkelanjutan," kata Asep di Jakarta, Selasa, 21 Oktober.

Asep menilai pengelolaan sampah tidak cukup hanya bergantung pada layanan pengangkutan, tetapi harus dimulai dari kesadaran masyarakat. Bank sampah dipandang sebagai salah satu instrumen penting untuk mendorong perubahan perilaku warga, sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui daur ulang.

Ketua Bank Sampah Budhi Luhur, Tutik Sri Susilowati, menyebut keberadaan bank sampah seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimbang atau menjual sampah, melainkan juga ruang kebersamaan yang memperkuat kesadaran lingkungan di tingkat akar rumput.

"Bank sampah adalah ruang belajar bagi masyarakat untuk menumbuhkan perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan. Karena itu, sosialisasi, pembinaan, dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pengelolaan sampah berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata," ungkap Tutik.

Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), Wilda Yanti, menambahkan peran pendamping bank sampah menjadi kunci keberhasilan program ini. Ia menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang baik dengan warga dan edukasi yang konsisten agar kebiasaan memilah sampah bisa terbentuk.

“Dengan semakin banyak bank sampah yang aktif, warga Jakarta dapat berdaya melalui ekonomi hijau berbasis komunitas, sekaligus membantu mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang,” tutur Wilda.