Bagikan:

JAKARTA - Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh meminta PT Transjakarta melakukan sertifikasi pramudi bus Transjakarta secara lebih rutin.

Hal ini, menurut Nova, diperlukan agar kondisi kesehatan fisik maupun psikologis para sopir dapat terpantau dengan data yang lebih aktual. Sebab, bus Transjakarta telah mengalami kecelakaan hingga 3 kali pada bulan ini.

"Ke depannya lagi sertifikasi itu yang disampaikan dari Dishub itu kan per 3

tahun ya, apakah nantinya memungkinkan diperpanjang lagi per 6 bulan," kata Nova kepada wartawan, Rabu, 24 September.

Nova menekankan, layanan Transjakarta saat ini menjadi salah satu moda transportasi utama warga untuk bermobilitas. Bahkan, penggunanya mencapai 1,3 juta per hari.

Oleh sebab itu, Pemprov DKI harus bisa memastikan para penumpang bisa merasa aman saat menggunakan layanan Transjakarta.

"Bagaimana ke depannya kita harus menjaga juga aspek-aspek keselamatan Baik dari pengemudi, penumpang, atau masyarakat yang ada di sekeliling jalur Transjakarta," ujar Nova.

Sebelumnya dalam rapat bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta, Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza mengungkap pihaknya akan menjalankan asesmen psikologi yang lebih mendalam kepada semua sopir atau pramudi busnya, buntut tiga kali kasus kecelakaan pada bulan ini.

Welfizon menyebut, tes psikologi yang bakal dilakukan usai berdiskusi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengevaluasi layanan Transjakarta yang mengalami kecelakaan.

"Yang kemarin pada saat bicara dengan KNKT perlu dibuat yang lebih advance, sehingga aspek psikologis sebelum menaiki kendaraan itu juga bisa dilakukan assessment dengan baik," kata Welfizon di gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa, 23 September.

Dari hasil diskusi dengan KNKT, Transjakarta perlu menyusun standarisasi modul keselamatan pramudi yang tidak hanya melibatkan teknikal, namun juga aspek mental kepada lebih dari 11 ribu sopir Transjakarta.

Sebab, berdasarkan hasil pemeriksaan, dua dari tiga kecelakaan Transjakarta yang menabrak bangunan serta kendaraan dalam bulan ini disebabkan oleh human error dan kondisi psikologis pramudi.

"Kondisi yang terjadi dalam dua kecelakaan terakhir, di mana pada saat pramudi dihadapkan pada kondisi yang cukup genting dan itu menimbulkan kepanikan. Jadi salah satu decision process yang harus diperkuat, sehingga pada saat dihadapkan pada kondisi-kondisi yang kritis itu tetap bisa lebih tenang," ungkap Welfizon.

"Kami targetkan dalam tiga bulan ke depan kita akan punya satu acuan pramudi Transjakarta, baik dari sisi soft skill, technical skill, dan psikologisnya punya acuan yang baik," lanjutnya.