JAKARTA - Perwakilan Tetap Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan, posisi negaranya sebagai negara senjata nuklir tidak dapat diubah, mengecam klaim "anakronistis" Amerika Serikat untuk denuklirisasi, lapor media pemerintah Hari Senin.
"Posisi Republik Rakyat Demokratik Korea sebagai negara senjata nuklir yang telah ditetapkan secara permanen dalam hukum tertinggi dan dasar negara tersebut telah menjadi tidak dapat diubah," bunyi pernyataan Perwakilan Tetap Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional di Wina, melansir Reuters dan KCNA 15 September.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), badan antarpemerintah untuk kerja sama nuklir, tidak memiliki "hak hukum dan pembenaran moral" untuk mencampuri apa yang dianggap Korea Utara sebagai "urusan internal," kata pernyataan pers misi tersebut, dikutip dari ABC News.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi awal bulan ini menyebut program pengembangan nuklir Korea Utara sebagai "pelanggaran nyata" terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.
Ia mengatakan lembaganya tetap "mempertahankan peningkatan kesiapannya untuk memainkan peran penting dalam memverifikasi program nuklir DPRK."
Sambil mengkritik dorongan AS untuk denuklirisasi sebagai "tindakan provokatif" untuk mencampuri urusan internalnya, Pyongyang membela senjata nuklirnya sebagai "pilihan yang tak terelakkan" untuk melindungi negara dari ancaman nuklir AS.
Pernyataan pada Hari Senin ini bertepatan dengan peluncuran Freedom Edge 25, latihan militer gabungan yang diadakan oleh Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang, di lepas pantai Pulau Jeju, Korea Selatan. Latihan gabungan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 19 September.
BACA JUGA:
Kemarin, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Korea Utara Pak Jong Chon mengatakan, latihan gabungan tersebut "menimbulkan tantangan serius bagi kepentingan keamanan negara kami dan bahaya besar yang dapat merusak stabilitas regional serta meningkatkan ketegangan militer," menurut media pemerintah.
Pyongyang pada Hari Senin menuduh Amerika Serikat melanggar kewajibannya sendiri untuk mencegah proliferasi nuklir "sementara lebih berfokus daripada siapa pun pada pengembangan tenaga nuklir."
"AS telah bertindak ekstrem dalam ancaman nuklirnya seiring berjalannya waktu dan aliansi nuklir yang dipimpin AS semakin putus asa dalam langkah-langkah konfrontatifnya," kata pejabat Korea Utara pada Hari Senin.