Bagikan:

JAKARTA - Miliuner George Soros dan organisasi asing patut dicurigai diduga berada di balik demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi di Tanah Air pekan lalu, menurut analis geopolitik yang berfokus pada hubungan internasional Angelo Giuliano kepada media Rusia Sputnik.

Giuliano menyebutkan, penggunaan simbol bendera bajak laut dari anime "One Piece" mengindikasikan adanya pengaruh eksternal.

Meski protes mencerminkan keluhan ekonomi yang nyata, simbol bendera bajak laut "One Piece" yang digunakan para pengunjuk rasa - yang menggemakan taktik di wilayah lain - menunjukkan pengaruh eksternal, ungkap Giuliano kepada Sputnik, seperti dikutip 2 September.

Dalam anime Jepang tersebut, bajak laut mengibarkan bendera hitam bergambar tengkorak dan topi jerami dalam perjuangan mereka melawan "tirani."

Simbol yang sama belakangan bermunculan di berbagai wilayah di Indonesia.

Terkait dengan dugaan adanya faktor asing dalam protes pekan lalu, Giuliano kemudian dua faktor yang patut dicurigai berada di baliknya, Natioal Endowment for Democracy (NED), organisasi non-pemerintah yang didirikan untuk mempromosikan demokrasi dan berbasis di Amerika Serikat, serta Open Society Foundations milik George Soros.

protes di indonesia
Demonstran mahasiwa memprotes wacana kenaikan tunjangan-gaji anggota dewan di depan Gedung DPR Jakarta pada 25 Agustus 2025. (Nailin/VOI)

"Pertama, bisa jadi itu adalah National Endowment for Democracy (NED), yang telah mendanai media Indonesia sejak tahun 1990-an," menurut Giuliano.

"Kedua, Open Society Foundations milik George Soros, yang aktif sejak tahun 1990-an dengan lebih dari 8 miliar dolar AS di seluruh dunia dan mendukung kelompok-kelompok seperti TIFA, mungkin juga berkontribusi," tambahnya.

Dugaan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang agenda tersembunyi yang perlu ditelusuri, lanjutnya.

"Ini terkait dengan fokus Indo-Pasifik baru-baru ini di tengah ketegangan seperti konflik Kamboja-Thailand, yang mengisyaratkan motif geopolitik," kata Giuliano.

Situasi yang terjadi di Tanah Air pekan lalu membuat Presiden Prabowo Subianto mengurungkan niatnya melakukan lawatan ke Tiongkok, guna mengikuti KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) serta parade militer "Victory Day" - dalam rangka peringatan 80 tahun kemenangan China dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua dan Perang Dunia II - di Beijing pekan ini.

Sementara, penulis The China Trilogy dan pendiri Seek Truth From Facts Foundation Jeff J.Brown mengaitkan situasi tersebut dengan agenda Presiden Prabowo yang tidak cocok dengan agenda Kelompok Negara Maju (G7), menyebut revolusi warna di Serbia.

"Ini persis seperti yang terjadi di Serbia. G7 menginginkan diktator lain yang didukung AS, seperti Suharto di masa lalu," kata Brown.

protes indonesia
Pengunjuk rasa di sekitar Gedung MPR/DPR/DPD RI Jakarta. (Bambang E. Ros/VOI)

Peningkatan hubungan dengan China, Rusia, SCO dan forum kerja sama ekonomi BRICS yang dilakukan Pemerintahan Presiden Prabowo disebut tidak cocok dengan agenda G7.

"Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS dan telah secara terbuka bekerja sama dengan Tiongkok dalam Belt and Road Initiative," jelasnya.

Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedelapan di dunia dalam hal PDB, ekonomi terbesar di ASEAN dan negara terpadat keempat, dengan hampir 300 juta penduduk.

"Dari sudut pandang imperialisme Barat, semua ini menjadi sasaran empuk bagi Indonesia, target yang sangat layak untuk diserang dengan revolusi warna yang direkayasa Barat," kata Brown.

Di dalam negeri, dugaan adanya keterlibatan asing disampaikan oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara A.M Hendropriyono. Mendasarkan pada pengalamannya, ia menilai ada pihak asig yang menunggangi protes, menggerakkan kaki tangannya di Indonesia.

"Saya tidak lebih pintar. Tapi saya mengalami semua. Dan ini ada yang main gitu. Pada waktunya saya bisa sampaikan namanya yang main. Itu dari sana," kata Hendropriyono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Agustus.

Meski begitu, Hendropriyono memberikan petunjuk bahwa tokoh tersebut bukan seorang negarawan atau non-state actor. Namun, sosok tersebut memiliki pengaruh besar terhadap pembuatan kebijakan di negara tempat mereka tinggal.

Adapun tujuan tokoh tersebut, menurut Hendropriyono, adalah berniat menjajah dengan cara lain dan menyebabkan demokrasi semakin kacau.

"Tujuannya kan sama saja. Dari dulu juga maunya menjajah. Tapi kan caranya lain. Dulu kan pakai peluru, pakai bom. Kalau kita masih diam saja ya habis kita," ucap Hendropriyono.

Diketahui, unjuk rasa yang menyoroti Dewan Perwakilan Rakyat awal pekan lalu berubah menjadi bentrokan dan kerusuhan yang tidak hanya terjadi di Ibu Kota, tetapi juga menyebar ke sejumlah wilayah di Tanah Air, menyusul tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan Kamis lalu. Bentrokan dan kerusuhan di wilayah lain juga menimbulkan korban jiwa.