JAKARTA - Sekitar 46.000 anak pengungsi Palestina memulai tahun ajaran baru mereka di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di seluruh Tepi Barat pada Hari Senin, termasuk 5.000 siswa yang baru masuk kelas satu.
UNRWA mencatat, ribuan anak kehilangan hak pendidikan mereka akibat kebijakan pendudukan Israel, dikutip dari WAFA 1 September.
Di Yerusalem Timur, UNRWA tidak dapat membuka sekolahnya di awal tahun ajaran untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, setelah otoritas pendudukan menutup paksa enam sekolahnya Mei lalu.
Hal ini berdampak pada sekitar 800 anak, dan hanya sebagian kecil yang dapat mendaftar di sekolah alternatif.
Sepuluh sekolah di Tepi Barat utara, di kamp pengungsi Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams, masih ditutup akibat Operasi Tembok Besi, yang mencegah lebih dari 4.000 anak kembali ke sekolah. Sebaliknya, anak-anak ini terus belajar jarak jauh dan belajar mandiri di tempat-tempat sementara.
UNRWA menekankan, dua tahun terakhir telah menyaksikan tingkat gangguan pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tepi Barat, dengan sekolah-sekolahnya menjadi sasaran penggerebekan dan vandalisme berulang kali, di samping penderitaan anak-anak akibat pengungsian dan kekerasan yang berkelanjutan.
Dari lebih dari 30.000 pengungsi di Tepi Barat utara, lebih dari sepertiganya adalah anak-anak kata badan itu.
UNRWA menegaskan, melindungi hak atas pendidikan telah menjadi prioritas utama dalam situasi ini, menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga masa depan anak laki-laki dan perempuan pengungsi Palestina, sebagaimana yang telah dilakukannya selama lebih dari 75 tahun kerja pendidikan dan pelayanannya.
BACA JUGA:
Badan tersebut mengharapkan, semua anak, termasuk mereka yang berada di Yerusalem Timur, akan dapat melanjutkan pendidikan mereka di lingkungan yang aman yang menjaga martabat mereka dan memberi mereka harapan untuk masa depan yang lebih baik.