Bagikan:

JAKARTA - Kolombia memakamkan calon presiden (capres) Miguel Uribe yang tewas dalam insiden penembakan berdarah. Istrinya, Maria Claudia Tarazona, berlinang air mata mengingatkan negara agar tidak mengulangi sejarah kekerasan politiknya yang kelam dan panjang.

“Negara kita sedang mengalami hari-hari yang paling gelap, paling menyedihkan, dan paling menyakitkan,” kata Maria sebelum upacara pemakaman yang penuh sesak dihadiri masyarakat, Kamis 14 Agustus, dikutip dari AFP.

Miguel yang merupakan mantan senator konservatif ditembak pada Juni 2025. Insiden berdarah tersebut berlangsung ketika pria berusia 39 tahun itu sedang berkampanye di ibu kota Kolombia, Bogota.

Setelah menjalani perawatan intensif akibat luka tembak yang dialaminya, Miguel meninggal pekan ini dan dimakamkan Rabu 13 Agustus waktu setempat.

Polisi menuding gerilyawan sayap kiri yang mengabaikan perjanjian damai 2016 di Kolombia menjadi dalang pembunuhan Miguel. Enam orang telah ditangkap terkait dengan insiden ini.

Bagi sebagian besar rakyat Kolombia, pembunuhan itu merupakan lonjakan kekerasan politik yang mengejutkan setelah bertahun-tahun situasi relatif damai.

Empat capres Kolombia dibunuh dalam kurun tahun 1980-an dan 1990-an, ketika kartel narkoba dan berbagai kelompok bersenjata meneror negara itu.