JAKARTA - Polsek Metro Penjaringan masih mendalami terkait perizinan terhadap sejumlah agensi pelayaran dan rekrutmen calon anak buah kapal (ABK) di kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, buntut dari kaburnya calon ABK dari mess beberapa waktu lalu.
"Kalau masalah perizinan masih kami dalami. Cuma terkait mempekerjakan ABK di kapal memang wilayah di sekitar TKP itu banyak agensi yang menampung para ABK," ujar Kanit Reskrim Polsek Penjaringan, AKP Sampson Sosa Hutapea saat dikonfirmasi, Senin, 11 Agustus 2025.
Polsek Metro Penjaringan bersama pihak RT/RW setempat dan Kecamatan serta stakeholder terkait lainnya akan melakukan penyelidikan perizinan sejumlah agensi penampungan ABK tersebut.
"Kami bersama stakeholder yang ada terkait perizinan agensi penampung ABK lalu SOP nya bagaimana, komitmen dengan kapal, dengan calon ABK, akan kami diskusikan lagi. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," katanya.
AKP Sampson mengatakan, kejadian kaburnya calon ABK menjadi pembelajaran bagi para agensi dan warga calok ABK terkait kontrak kerja yang ditawarkan.
"Ini kan juga menjadi pembelajaran warga setempat para calon ABK bahwa komitmen yang sudah disepakati seperti apa. Apa yang harus dijalankan dan apa yang harus tidak dijalankan," ucapnya.
Sementara terkait peristiwa kaburnya 3 orang calon ABK dari mess merupakan bentuk ketidakpuasan korban terhadap kontrak kerja pihak agensi pelayaran.
BACA JUGA:
"Bahwa memang si ABK ini banyak yang tidak memenuhi kesepakatan yang dijanjikan. Lalu mereka ini merasa menunggu terlalu lama, kapan berangkat naik kapalnya, lalu mereka ya pergi dari mess tersebut," katanya.
Kanit memastikan, kejadian itu bukan tindak kejahatan penyekapan seperti yang ramai di pemberitaan media.
"Kita sudah ke lokasi dan itu memang bukan penyekapan," ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, tiga calon ABK asal Majalengka diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.
Ketiga korban bernama Richi Andrea (20), Ahmad Syawaludin (17), dan Ryan Hidayat (20) berhasil menyelamatkan diri setelah sebelumnya disekap oleh komplotan para penyalur kerja ilegal.
Ketiga korban disekap setelah tertipu melamar kerja menjadi calon anak buah kapal (ABK) melalui media sosial Facebook.
"Awalnya, dari Facebook diajak sama teman disampar di rumah, diajak katanya mau ikut enggak kerja di Jakarta jadi ABK di Muara Baru katanya kontrak empat bulan," aku Richi kepada wartawan, Rabu 6 Agustus 2025.
Dalam lowongan kerja (loker) yang diiklankan di Facebook itu tercantum nilai gaji sekitar Rp 6 juta. Ketiga korban yang sebelumnya hanya pengamen, akhirnya memberanikan diri untuk melamar dan datang ke Jakarta Utara.