JAKARTA – Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Tangerang, Ahmad Chumaedy menyebut bila Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar untuk menggeser Bahlil Lahadalia dari kursi ketua umum bukan hal yang mudah untuk direalisasikan.
“Bahlil memiliki legitimasi sebagai ketua umum karena baru terpilih dan saat ini didukung sebagian besar struktur partai di daerah. Diperlukan manuver dan dana yang besar untuk mendapatkan dukungan mayoritas DPD Provinsi dan persetujuan Dewan Pembina. Manuver politik hanya berhasil jika ada konsolidasi kekuatan internal dan restu politik dari pihak berpengaruh,” terangnya, Minggu 3 Agustus 2025.
Rumor Munaslub Partai Golkar ini muncul usai Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian DPP Partai Golkar yang juga Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid dikabar dipanggil Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan itu, Istana diklaim meminta pelaksanaan munaslub untuk mengganti Bahlil dilakukan sebelum pergantian tahun.
Tapi, rumor tersebut dibantah politikus senior Partai Golkar, Nurdin Halid, yang menyatakan bila rumor munaslub untuk mengganti Bahlil merupakan hoaks.
Dia menegaskan, Golkar sejauh ini masih solid mendukung Bahlil sebagai ketua umum dan manuver itu merupakan agenda dari pihak-pihak yang berniat merusak soliditas Partai Golkar.
Meski demikian, Memed-sapaan akrab Ahmad Chumaedy-internal Partai Golkar tetap harus waspada terkait dengan adanya rumor dukungan Istana.
Terlebih, Bahlil yang saat ini menjabat sebagai Menteri ESDM di Kabinet Prabowo dianggap sebagai “titipan” dari presiden sebelumnya, Joko Widodo (Jokowi).
Selain itu, Bahlil selama ini dinilai sangat mencolok sebagai perpanjangan kepentingan Jokowi di Golkar.
Karena itu, wajar jika ada kubu-kubu di internal Golkar memprotes hal itu dengan mengembuskan isu munaslub.
“Tapi semua kembali pada kalkulasi politik internal partai dan kebutuhan stabilitas pemerintahan mendatang,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Di sisi lain, Memed menilai, jika rumor restu Istana terhadap pelaksanaan munaslub adalah benar, maka kandidat yang paling ideal sebagai pengganti Bahlil merupakan tokoh Partai Golkar yang memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo atau figur yang dianggap bisa menjaga kesinambungan pemerintahan Prabowo.
“Nama-nama seperti Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, Agus Gumiwang atau Ahmad Doli Kurnia Tanjung bisa menjadi alternatif karena dikenal dekat dengan lingkaran Prabowo,” katanya.