Bagikan:

JAKARTA - NATO disebut membutuhkan lebih banyak rudal jarak jauh di gudang senjatanya untuk mencegah Rusia menyerang Eropa karena Moskow diperkirakan akan meningkatkan produksi senjata jarak jauh.

Penggunaan rudal jarak jauh Rusia yang efektif dalam perangnya di Ukraina telah meyakinkan para pejabat militer Barat akan pentingnya rudal tersebut untuk menghancurkan pos komando, pusat transportasi, dan peluncur rudal yang berada jauh di belakang garis musuh.

"Tentara Rusia saat ini lebih besar daripada saat mereka memulai perang di Ukraina," ujar Mayor Jenderal John Rafferty dalam wawancara dengan Reuters di pangkalan militer AS di Wiesbaden, Jerman dilansir Sabtu, 12 Juli.

"Dan kami tahu bahwa mereka akan terus berinvestasi dalam roket dan rudal jarak jauh serta pertahanan udara yang canggih. Jadi, peningkatan kapabilitas aliansi sangatlah penting,” sambungnya.

Perang di Ukraina telah menunjukkan ketergantungan Eropa yang besar pada Amerika Serikat untuk menyediakan rudal jarak jauh, dengan Kyiv berupaya memperkuat pertahanan udaranya.

Rafferty baru-baru ini menyelesaikan tugasnya sebagai komandan Komando Artileri ke-56 Angkatan Darat AS di kota Mainz-Kastel, Jerman, yang sedang mempersiapkan penempatan sementara rudal jarak jauh AS di wilayah Eropa mulai tahun 2026.

Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Senin, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius diperkirakan akan mencoba mengklarifikasi apakah pengerahan pasukan semacam itu, yang disepakati antara Berlin dan Washington saat Joe Biden menjabat sebagai presiden, akan dilanjutkan setelah Donald Trump kembali menjabat.

Perjanjian tersebut mencakup pengerahan sistem, termasuk rudal Tomahawk dengan jangkauan 1.800 km dan senjata hipersonik Dark Eagle yang sedang dikembangkan dengan jangkauan sekitar 3.000 km.

Rusia mengkritik rencana pengerahan rudal jarak jauh AS di Jerman sebagai ancaman serius bagi keamanan nasionalnya.

Rusia menepis kekhawatiran NATO Rusia dapat menyerang anggota aliansi tersebut dan menyebut kekhawatiran tentang ekspansi NATO sebagai salah satu alasannya untuk menginvasi Ukraina pada tahun 2022.

RENCANA EROPA

Fabian Hoffmann, seorang peneliti doktoral di Universitas Oslo yang berspesialisasi dalam rudal, memperkirakan AS menyediakan sekitar 90% dari kemampuan rudal jarak jauh NATO.

"Kemampuan serangan jarak jauh sangat krusial dalam peperangan modern," ujarnya.

"Anda sungguh tidak ingin terjebak dalam posisi seperti Ukraina (tanpa senjata semacam itu) di tahun pertama (perang). Itu menempatkan Anda pada posisi yang sangat tidak menguntungkan,” sambungnya.

Menyadari kerentanan ini, negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO telah sepakat untuk meningkatkan anggaran pertahanan di bawah tekanan Trump.

Beberapa negara Eropa memiliki rudal jarak jauh mereka sendiri, tetapi jumlah dan jangkauannya terbatas. Rudal AS dapat menyerang target pada jarak beberapa ribu km.

Rudal jelajah Eropa yang diluncurkan dari udara, seperti Storm Shadow milik Inggris, Scalp milik Prancis, dan Taurus milik Jerman, memiliki jangkauan beberapa ratus km.

Missile de Croisiere Naval (MdCN) yang diluncurkan dari laut milik Prancis dapat menempuh jarak lebih dari 1.000 km.

Semua rudal tersebut dibuat oleh produsen senjata Eropa, MBDA, yang memiliki cabang di Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia.

Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Inggris, dan Swedia kini berpartisipasi dalam program akuisisi rudal konvensional jarak jauh yang diluncurkan dari darat, yang dikenal sebagai European Long-Range Strike Approach (ELSA).

Sebagai bagian dari program ini, Inggris dan Jerman mengumumkan pada pertengahan Mei mereka akan mulai mengembangkan rudal dengan jangkauan lebih dari 2.000 km.